sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Jarak Kelahiran Anak Pengaruhi Risiko Stunting, BKKBN Anjurkan Jeda Tiga Tahun

News editor Mei Sada
23/09/2026 17:08 WIB
Salah satu alasannya berkaitan dengan kebutuhan bayi untuk mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan.
Jarak Kelahiran Anak Pengaruhi Risiko Stunting, BKKBN Anjurkan Jeda Tiga Tahun. (Foto: MNC Media)
Jarak Kelahiran Anak Pengaruhi Risiko Stunting, BKKBN Anjurkan Jeda Tiga Tahun. (Foto: MNC Media)

“Bayangkan kalau misalnya belum enam bulan sudah hamil. Berarti, kan, bayi kita pasti stop ASI. ASI-nya stop,” kata Wahidin saat Advokasi Strategis PJPK dan Optimalisasi Bonus Demografi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN pada Rabu (23/9/2026).

Selain kebutuhan ASI untuk bayi, jarak kelahiran juga memberikan kesempatan bagi ibu untuk memulihkan kondisi tubuh dan mempersiapkan kehamilan berikutnya. Karena itu, masyarakat dianjurkan mengatur jarak kelahiran dengan interval minimal 36 bulan (tiga tahun).

Pentingnya mengatur jarak kelahiran juga dikaitkan dengan kondisi gizi ibu. Penggunaan kontrasepsi memungkinkan pasangan menentukan kapan ingin memiliki anak pertama, mengatur jarak kelahiran, sekaligus merencanakan jumlah anak.

Dengan perencanaan tersebut, kondisi kesehatan dan gizi ibu diharapkan dapat lebih terjaga sebelum kembali menjalani kehamilan.

“Dengan penggunaan kontrasepsi, maka bisa mengatur kapan kelahiran anak pertama, kemudian akan menjarangkan jarak antar-anak, kemudian juga menentukan jumlah anaknya, yang pada akhirnya berdampak pada status gizi perempuan atau ibunya,” jelas Wahidin.

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement