Ia menilai, kebutuhan jaringan telekomunikasi tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan jumlah penduduk yang menetap. Sehingga jalur wisata yang melintasi kawasan hutan maupun kawasan pemukiman penduduk yang sedikit juga tetap perlu akses komunikasi. Utamanya, guna mendukung keselamatan pengunjung saat menghadapi masalah darurat.
“Di daerah yang tidak ada penduduk, tapi sebetulnya lintasan untuk orang wisata itu juga butuh penguatan. Karena kalau ada turis-turis, dalam keadaan darurat, harus tetap bisa terhubung,” jelas dia.
Nezar menjelaskan, penguatan konektivitas di Berau merupakan bagian dari upaya pemerataan akses telekomunikasi, termasuk di wilayah yang belum terjangkau layanan secara memadai.
BAKTI sendiri diprioritaskan dalam pelaksanaan tersebut untuk melayani daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Sementara, operator seluler didorong untuk memperkuat jaringan di kawasan yang memiliki kebutuhan komunikasi dan potensi ekonomi, termasuk destinasi wisata.
“Negara punya kewajiban no one left behind, tidak ada yang tertinggal. Sehingga kita arahkan jaringan telekomunikasi ke daerah-daerah 3T, yang tertinggal, terdepan, terluar, jadi prioritas buat programnya BAKTI,” pungkas dia.
(Nadya Kurnia)