"Kurikulumnya sama (dengan sekolah pada umumnya) karena yang mendampingi kami membuat kurikulum Sekolah Rakyat dari Kementerian pendidikan, karena ini boarding school, sekolahnya sama, di boardingnya ini yang kita tambah dengan pendidikan karakter," katanya.
"Kalau pagi yang dampingi para guru, kalau malam atau di asrama itu didampingi wali asrama, wali asuh di bawah koordinasi kepala sekolah. Jadi, pemimpin tertingginya di lingkungan Sekolah Rakyat itu para kepala sekolah, pada prinsipnya sama, Ijazahnya sama," lanjutnya.
Dia menambahkan, saat ini Sekolah Rakyat di 180 titik Indonesia terdapat 44 ribu siswa, mulai dari tingkat SD, SMP, hingga SMA dengan 93 titik sudah terbangun gedung sekolah permanen. Diharapkan, pada tahun berikutnya saat sekolah lainnya sudah terbangun gedung permanen jumlah siswanya bisa meningkat lagi menjadi 100-200 ribu.
"Ini terus kita lakukan konsolidasi dan perbaikan-perbaikan, monitoring evaluasi terus, mulai dari bagaimana kita mencegah terjadinya bullying, kekerasan fisik, seksual, maupun juga intoleransi (di sekolah rakyat). Kita memiliki mekanisme melakukan mitigasi jika ada hal-hal yang perlu dicarikan jalan keluar atau solusi," katanya.
(Nur Ichsan Yuniarto)