Di sisi lain, para siswa yang masuk Sekolah Rakyat berasal dari latar belakang budaya, kebiasaan, dan pola asuh berbeda-beda. Sehingga proses belajar mengajar dilakukan dengan pendekatan edukatif dan pendekatan rehabilitasi, khususnya bagi siswa yang perlu layanan psikososial.
"Kita tahu penjangkauannya tidak menggunakan tes akademik, tapi pendekatan berbasis data desil satu dan desil dua, yaitu keluarga paling tidak mampu secara sosial ekonomi. Di sana kita menemukan berbagai kondisi objektif kesehatan siswa, baik itu kesehatan mental maupun kesehatan fisik," kata dia.
Dia mengungkap, berbagai macam tantangan dihadapi dalam proses pendidikan sekolah rakyat, tapi dengan pendampingan yang tepat para siswa bisa meraih banyak prestasi sebagaimana yang terjadi pada 2025-2026. Mulai dari bidang seni, budaya, hingga olahraga. Bahkan, saat ini sekolah rakyat sudah meluluskan 400 lebih siswanya.
"Ada anak-anak tingkat SMA sekitar 11 orang lulus tahun ini, sebagian sudah kuliah, sebagian lagi sudah bekerja, yang lulus SMP lebih banyak, yang dari SD lulus ke SMP juga banyak. Jumlahnya secara keseluruhan sekitar 430-an anak yang lulus tahun ini, artinya dari SD ke SMP, ada yang SMP ke SMA, dan yang lulus SMA 11 siswa," katanya.
Dalam kunjungan tersebut, Mensos berinteraksi hangat para siswa Sekolah Rakyat. Mensos makan bersama sajian MBG bersama para siswa sekolah. Para siswa juga memperlihatkan pertunjukan nyanyi di hadapan Mensos.