sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Trans Batam Tambah Bus Jadi 52 Unit, Layani 5 Koridor Strategis

News editor Iqbal Dwi Purnama
28/05/2026 14:00 WIB
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengapresiasi komitmen Pemkot Batam yang terus menambah armada bus Trans Batam.
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengapresiasi komitmen Pemkot Batam yang terus menambah armada bus Trans Batam. (Foto: Dok. Kemenhub)
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengapresiasi komitmen Pemkot Batam yang terus menambah armada bus Trans Batam. (Foto: Dok. Kemenhub)

IDXChannel - Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengapresiasi komitmen Pemerintah Kota (Pemkot) Batam yang terus menambah armada bus Trans Batam hingga 52 unit pada tahun 2026.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub, Aan Suhanan mengatakan, pengembangan layanan Bus Rapid Transit (BRT) melalui skema Buy The Service (BTS) dilakukan secara konsisten oleh Pemkot Batam sejak 2,5 tahun silam.

"Kami melihat penguatan Trans Batam dilakukan konsisten, penambahan armadanya bertahap sejak 2024 hingga penambahan 19 unit di tahun 2026," ujar Aan dalam keterangan resmi, Kamis (28/5/2026). 

Dia menjelaskan, sejak 2024 Pemkot Batam telah menghadirkan 20 unit bus Trans Batam. Jumlah tersebut kemudian bertambah 13 unit pada 2025 dan kembali bertambah 19 unit pada 2026 sehingga total armada BTS yang kini beroperasi mencapai 52 unit.

Menurut Aan, seluruh armada dioperasikan untuk melayani lima koridor strategis di Batam menuju Batam Centre, yakni Sekupang, Tanjung Uncang, Jodoh, Tanjung Piayu, dan Nongsa.

"Kami juga mengapresiasi penerapan sistem pembayaran non-tunai serta integrasi antarmoda Trans Batam, termasuk konektivitasnya menuju Bandara Hang Nadim," katanya.

Aan menilai penguatan layanan transportasi publik melalui pengembangan BRT menjadi bagian penting dalam mendukung efisiensi mobilitas masyarakat. Kehadiran transportasi publik yang efisien dinilai mampu mengurangi beban ekonomi masyarakat akibat tingginya biaya transportasi dan kemacetan.

"Saat ini biaya transportasi menghabiskan hingga 30-40 persen pendapatan masyarakat dan sektor ini juga menyerap 90 persen dari subsidi BBM senilai Rp300 triliun per tahun. Ketidakseimbangan ini menyebabkan masalah, mulai dari semakin lamanya waktu perjalanan, kerugian akibat kemacetan, polusi udara, hingga kesulitan masyarakat mengakses pendidikan dan pekerjaan," ujarnya.

Pemerintah terus mengembangkan Angkutan Umum Massal Perkotaan (AUMP) di 20 kota utama sesuai RPJMN 2025-2029. Program tersebut bertujuan untuk mengurangi durasi perjalanan, meningkatkan aksesibilitas, dan mengoptimalkan peran kawasan perkotaan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi.

Aan menambahkan pengembangan AUMP membutuhkan perencanaan terintegrasi, kerja sama pendanaan antara pemerintah pusat dan daerah, serta tata kelola yang kuat agar dapat menciptakan sistem transportasi yang berkelanjutan dan efisien.

Sebagai bentuk dukungan terhadap digitalisasi layanan transportasi daerah, Ditjen Perhubungan Darat juga menyediakan sejumlah platform digital seperti aplikasi Mitra Darat, situs Teman Bus, Executive Dashboard, Digital Checker App, hingga Checker Web guna membantu operator meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

(Rahmat Fiansyah)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement