IDXChannel — Asosiasi Perusahaan Media Luar-Griya Indonesia (AMLI) sukses menggelar Strategic Forum INDOOH 2026 pada Jumat, 9 Oktober 2026, di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Acara ini terselenggara berkat fasilitas dan dukungan penuh dari Krista Exhibitions (PT Kristamedia Pratama) sebagai bagian dari pameran internasional Indo Sign, LED & Advertising Expo 2026 / AllPrint Indonesia.
Forum strategis yang mengusung tema “Shaping the Future of Indonesia’s OOH Industry: Global Insights, Local Transformation, & Industry Collaboration” ini menjadi momentum penting bagi akselerasi industri media luar griya (Out of Home) nasional melalui kolaborasi lintas sektor, adopsi teknologi Digital Out of Home (DOOH), penguatan riset & pengukuran data (measurement), serta integrasi Programmatic Advertising.
Rangkaian sesi utama forum berlangsung sebagai berikut:
1. Sambutan Pembukaan & Arah Industri OOH
Acara diawali dengan sesi pembukaan dan sambutan oleh Fabianus Bernadi, Ketua Umum DPP AMLI. Dalam pemaparannya mengenai OOH Industry Outlook, beliau menekankan pentingnya adaptasi teknologi dan penguatan ekosistem media luar-griya di tengah perubahan perilaku konsumen serta perkembangan kawasan perkotaan di Indonesia.
“Perubahan industri luar-griya bukan sekadar transisi dari papan statis ke layar digital, melainkan pergeseran mendasar dari sekadar selling location menjadi selling audience & experience. Kita harus membangun standar pengukuran dan ekosistem industri bersama agar OOH Indonesia menjadi pemain utama di kawasan regional,” tegas Fabianus Bernadi.
2. Perspektif Global & Tren Industri OOH
Pada Sesi 1 (Global & Local OOH Industry Update), Agung Prihambodo (Managing Director Indonesia at Billups, Vice Chairman AMLI, serta Ambassador World Out of Home Organization / WOO) menyampaikan pemaparan mengenai peta pertumbuhan OOH global dan lokal. Beliau menyoroti potensi pasar OOH Indonesia yang mencapai USD330 Juta (sekitar Rp5,91 Triliun) dengan penetrasi digital mendekati 40 persen. Namun, adopsi programmatic DOOH (pDOOH) di Indonesia masih di bawah 1 persen.
“Indonesia memiliki pasar OOH yang sangat potensial dengan penetrasi digital mendekati 40 persen, namun pDOOH kita masih di bawah 1 persen. Kita telah memiliki infrastruktur layar digital yang masif, kini saatnya membangun infrastruktur programmatic dan common measurement language agar daya saing industri kita sejajar dengan standar global,” ujar Agung Prihambodo.
3. Inovasi Teknologi Kreatif & Integrasi Media Digital
Sesi 2 (Creative Technology, Digital Media & DOOH) menghadirkan Dian Gemiano (CEO KLY & Chairman Indonesia Digital Association / IDA). Sesi ini mengulas konvergensi antara media fisik dan ruang digital, peran AdTech, interaktivitas konten, serta pemanfaatan data audiens terukur untuk meningkatkan efektivitas kampanye periklanan omnichannel.
“Indonesia tidak memiliki masalah dengan jumlah layar digital, kita memiliki proof problem. Layar pintar tidak bernilai jika kita tidak bisa membuktikan efektivitas dan audiensnya. Kolaborasi IDA dan AMLI hadir untuk membangun tiga hal utama: laporan industri terverifikasi, standar pengukuran bersama, dan kerangka transaksi pDOOH,” ungkap Dian Gemiano.