Daryono kembali menjelaskan bahwa ketika abu vulkanik terhisap masuk ke dalam mesin, partikel silika tersebut meleleh secara mendadak, mengalir, lalu membeku kembali menjadi kerak kaca (silicate glass coating) saat melewati bagian turbin yang lebih dingin.
Penumpukan kerak kaca ini menyumbat nosel aliran udara dan mengganggu aerodinamika bilah turbin, yang berujung pada terhentinya aliran udara (engine stall) hingga hilangnya pembakaran internal secara total (flameout).
“Selain kerusakan mekanis dan termal, abu vulkanik juga memicu gangguan sistemik pada navigasi dan kelistrikan pesawat. Gesekan antarpartikel abu halus yang terlempar dengan kecepatan tinggi menimbulkan muatan listrik statis ekstrem, memicu fenomena St. Elmo's Fire di kaca kokpit serta gangguan interferensi frekuensi radio komunikasi,” kata Daryono.
Lebih lanjut, Daryono mengatakan komposisi asam yang melekat pada abu vulkanik juga berpotensi menyebabkan korosi instan pada komponen elektronik sensitif dan mencemari sistem pengondisian udara kabin (bleed air), yang tidak hanya mengancam kelangsungan fungsi instrumen penerbangan tetapi juga membahayakan keselamatan sistem pernapasan kru dan penumpang.
Abu vulkanik sangat berbahaya bagi penerbangan karena mengandung fragmentasi kaca silika (SiO2) dan mineral mikroskopis tajam yang bersifat abrasif, yang sanggup mengikis kaca kokpit, merusak sensor kecepatan udara, serta memicu gangguan listrik statis pada navigasi.