“Kami bergerak maju dengan rencana yang jelas dan portofolio produk yang sangat kompetitif,” ujarnya.
Untuk 2026, Mercedes memperkirakan tantangan masih berlanjut. Pendapatan diproyeksikan berada di kisaran 132,2 miliar euro, setara tahun lalu. Namun, laba inti diperkirakan jauh di atas level 2025 karena tidak lagi dibebani biaya restrukturisasi satu kali.
Di bisnis mobil inti, margin keuntungan tahun ini diperkirakan hanya 3-5 persen, lebih rendah dari lima persen yang dicapai sebelumnya.
Mercedes menghadapi tekanan dari tiga sisi: penurunan tajam penjualan di China, permintaan stagnan di Eropa, serta tingginya biaya investasi kendaraan listrik (EV) di tengah permintaan yang belum merata dan tarif AS terhadap mobil asing.
Di China, pasar otomotif terbesar di dunia, Mercedes terpukul perang harga dan persaingan ketat dari produsen lokal seperti BYD dan Geely.