BANKING

BBRI Sebut Portofolio Kredit UMKM Punya Daya Tahan Kuat di Tengah Gejolak Ekonomi

Anggie Ariesta 30/04/2026 14:24 WIB

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI (BBRI) menegaskan komitmennya untuk tetap tumbuh secara sehat dan berkelanjutan.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI (BBRI) menegaskan komitmennya untuk tetap tumbuh secara sehat dan berkelanjutan. (Foto: Ist)

IDXChannel - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI (BBRI) menegaskan komitmennya untuk tetap tumbuh secara sehat dan berkelanjutan di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan fluktuasi ekonomi global.

Direktur Utama BRI, Hery Gunardi mengatakan, perseroan terus memperketat pengawasan terhadap risiko kredit, terutama pada segmen UMKM yang menjadi motor utama bisnis BRI. Dia menilai, meski tantangan global meningkat, struktur bisnis BRI yang berbasis pada pelaku UMKM memiliki daya tahan yang lebih kuat dibandingkan segmen korporasi karena sifatnya yang granular atau tersebar dalam jumlah kecil.

"Kami melihat bahwa struktur bisnis BRI yang berbasis pada segmen UMKM, justru memberikan tingkat resiliensi yang relatif baik karena karakteristiknya yang bersifat granular dan tidak terpusat pada satu segmen tertentu. Dan jumlahnya juga kecil-kecil ya, beda dengan korporasi kalau satu loan itu bisa triliunan, ini kan tidak terlalu besar," ujar Hery dalam konferensi pers virtual, Kamis (30/4/2026).

Meskipun secara umum aset tetap terjaga, BRI telah memetakan sejumlah sektor yang dianggap paling rentan terhadap dinamika ekonomi dunia saat ini. Sektor-sektor yang berkaitan erat dengan komoditas ekspor, fluktuasi harga energi, dan nilai tukar mata uang kini masuk dalam pantauan ketat tim manajemen risiko.

Untuk memitigasi potensi pemburukan kualitas kredit, BRI menerapkan strategi selective growth melalui kriteria penerimaan risiko yang ketat (Risk Acceptance Criteria/RAC).

"Manajemen risiko tentunya di awal akan menentukan RAC. Jadi bisnis itu akan masuk ke segmen mana saja, kemudian subsegmen mana saja dengan RAC yang terukur dan terjaga. Ini penting sehingga kita punya pattern untuk masuk ke segmen-segmen yang memang kita yakini masih memiliki profitability yang baik ataupun juga dengan kualitas yang baik," kata Hery.

Di sisi lain, Hery menekankan bahwa kualitas pertumbuhan jauh lebih penting daripada sekadar mengejar volume pinjaman. Baginya, menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan kualitas aset adalah tantangan nyata bagi para bankir di masa sulit seperti saat ini.

Dia mengingatkan bahwa pertumbuhan yang mengabaikan kualitas hanya akan menjadi bom waktu bagi perbankan di masa depan.

"Kita tentunya ingin tumbuh, tapi tumbuh dengan sehat, tumbuh dengan sustain (berkelanjutan). Kalau volumenya naik tapi kualitasnya tidak dijaga ya itu namanya nunggu waktu saja itu akan menuai badai di belakang hari. Di sinilah para bankir itu diuji, gimana caranya menjalankan bisnis di saat kondisi yang tidak terlalu kondusif," ujarnya.

Hingga kuartal I-2026, kualitas aset BRI menunjukkan tren perbaikan. Hal ini tercermin dari rasio Loan at Risk (LAR) yang berhasil ditekan ke angka 9,7 persen, turun dari posisi 11,1 persen pada periode yang sama tahun lalu. BRI berkomitmen untuk terus mengandalkan sistem early warning signal guna mendeteksi potensi risiko kredit sejak dini.

(Rahmat Fiansyah)

SHARE