BANKING

OJK Sebut Sektor Jasa Keuangan Nasional Stabil di Tengah Ancaman Era Higher for Longer

Anggie Ariesta 05/10/2026 14:42 WIB

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga dalam kondisi solid.

OJK Sebut Sektor Jasa Keuangan Nasional Stabil di Tengah Ancaman Era Higher for Longer. (Foto Tangkapan Layar Zoom)

IDXChannel - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga dalam kondisi solid di tengah eskalasi ketidakpastian geopolitik dan era pengetatan kebijakan moneter global.

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan, secara umum laju pertumbuhan ekonomi global tahun 2026 diperkirakan melambat disandingkan tahun 2025, meski masih melampaui proyeksi awal berkat topangan investasi dan perdagangan berbasis teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Meski demikian, Friderica menekankan hadirnya risiko eksternal yang dapat menahan laju pemulihan ekonomi global.

"Namun, keberlanjutan momentum pertumbuhan masih menghadapi tantangan dari kenaikan inflasi global akibat eskalasi konflik geopolitik yang kembali menaikkan harga minyak, serta very strong El Nino yang berpotensi mendorong kenaikan harga pangan dan komoditas pertanian," ujar Friderica dalam Konferensi Pers Asesmen Sektor Jasa Keuangan dan Kebijakan OJK Hasil RDKB September 2026 yang digelar secara virtual, Senin (5/10/2026).

Friderica menjelaskan, tekanan inflasi global tersebut memicu pengetatan suku bunga kebijakan yang lebih lama (higher for longer) di berbagai kawasan seperti Amerika Serikat (AS), Eropa, hingga Jepang. Pasar bahkan mengekspektasikan tren kenaikan suku bunga utama ini masih akan berlanjut hingga akhir 2026 dan 2027.

Kondisi tersebut turut mendorong imbal hasil (yield) obligasi pemerintah global menembus rekor tertinggi dalam dekade terakhir. Yield obligasi di AS dan Eropa merangkak ke level pra-2008, sedangkan di Jepang menyentuh titik sebelum 1997.

Kenaikan ini juga tereskalasi oleh melonjaknya kebutuhan pembiayaan utang pemerintah serta penerbitan obligasi jangka panjang oleh emiten hyperscalers demi ekspansi infrastruktur AI.

Berbeda dengan ketidakpastian global, indikator makro ekonomi domestik Indonesia justru memperlihatkan daya tahan yang kuat, ditopang oleh tingkat inflasi yang terjaga stabil.

Friderica menyebutkan, terkendalinya inflasi nasional berdampak positif terhadap daya beli serta konsumsi rumah tangga yang terus menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.

"Di domestik, indikator terkini menunjukkan kondisi perekonomian yang kuat dengan inflasi masih stabil. Terjaganya inflasi mendorong permintaan domestik dan tingkat konsumsi masyarakat tetap kuat dan menopang pertumbuhan ekonomi nasional," ujarnya.

Daya tahan ekonomi Indonesia tersebut mendapat pengakuan internasional. Lembaga Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) resmi menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 sebesar 0,5 persen.

"Sejalan dengan hal tersebut, OECD juga meningkatkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 sebesar 0,5 persen, tentunya hal ini mencerminkan kepercayaan global terhadap daya tahan perekonomian nasional," kata Friderica.

OJK memastikan bakal terus memperkuat pengawasan serta stabilitas industri jasa keuangan agar tetap kontributif dalam mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi nasional.

(Dhera Arizona)

SHARE