ECONOMICS

Airlangga Jajaki Kerja Sama Industri Alat Berat dan Pertanian di Belarus

Anggie Ariesta 15/05/2026 12:20 WIB

Airlangga mengunjungi sejumlah industri manufaktur utama di Minsk, Belarus, Kamis (14/5/2026). Hal itu untuk memperkuat ketahanan pangan dan industrialisasi.

Airlangga Jajaki Kerja Sama Industri Alat Berat dan Pertanian di Belarus. (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto melakukan kunjungan kerja ke sejumlah industri manufaktur utama di Minsk, Belarus, Kamis (14/5/2026). Hal itu untuk memperkuat ketahanan pangan dan industrialisasi nasional.

Kunjungan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-8 RI–Belarus sekaligus langkah strategis dalam mengoptimalkan perjanjian Indonesia–Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (Indonesia–EAEU FTA).

Pemerintah memandang perlunya pemetaan produk strategis di kawasan Eurasia yang dapat mendukung kebutuhan dalam negeri, terutama di sektor alat berat dan teknologi pertanian modern. Belarus, yang memiliki kontribusi manufaktur mencapai 20,3 persen terhadap PDB dan tingkat swasembada pangan 96 persen, dinilai sebagai mitra yang kompeten.

“Kami melihat perusahaan-perusahaan Belarus berpengalaman dalam memproduksi berbagai macam produk alat berat, terutama yang dapat memperkuat industrialisasi, mekanisasi pertanian modern, serta pengembangan industri alat berat di Indonesia,” ujar Airlangga dalam keterangannya, Jumat (15/5/2026).

Airlangga mengunjungi Minsk Tractor Works (MTZ) untuk meninjau teknologi traktor yang dapat mendukung program food estate dan produktivitas pertanian nasional. Pihak MTZ menyatakan kesiapannya untuk melakukan kustomisasi alat sesuai kebutuhan Indonesia, termasuk menawarkan transfer teknologi dan pelatihan bagi tenaga kerja lokal.

Langkah ini sejalan dengan Asta Cita Presiden untuk mewujudkan ketahanan pangan melalui modernisasi alat mesin pertanian (alsintan) yang efisien. Selain itu, dijajaki pula studi pengembangan singkong (cassava) menjadi etanol serta penggunaan baterai nikel dalam alat pertanian.

Kunjungan dilanjutkan ke MAZ (Minsk Automobile Plant) dan BelAZ Holding Management Company. Di MAZ, fokus pembicaraan tertuju pada pengembangan bus dan kendaraan komersial rendah emisi, termasuk peluang perakitan lokal (local assembly).

Sementara di BelAZ, pembicaraan mendalam dilakukan mengenai penyediaan dump truck untuk sektor pertambangan. Mengingat Indonesia mengekspor sekitar 800 juta ton batu bara per tahun, kebutuhan akan kendaraan angkut yang berkelanjutan menjadi prioritas. 

Indonesia menawarkan peluang kerja sama rantai pasok ban kendaraan berat berbasis karet alam (natural rubber) serta penggunaan baterai nikel untuk meningkatkan kinerja kendaraan tambang.

Meskipun potensi kerja sama sangat besar, Airlangga mencatat adanya kendala berupa sulitnya akses informasi mengenai kebutuhan spesifik alat berat di Indonesia bagi pihak Belarus. 

Untuk mengatasinya, kedua negara sepakat untuk melakukan pemetaan kebutuhan bersama dan meningkatkan forum konsultasi reguler antara pelaku industri.

Kunjungan ke tiga raksasa industri Belarus ini diharapkan dapat memperkuat hasil SKB ke-8 serta menjadi fondasi penting bagi rencana kunjungan Presiden Belarus ke Indonesia di masa depan. 

Turut mendampingi dalam kunjungan tersebut Duta Besar RI untuk Federasi Rusia dan Belarus Jose Tavares, Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso, serta perwakilan Kadin dan Apindo.

(Febrina Ratna Iskana) 

SHARE