ECONOMICS

Cadangan Energi Nasional Berlapis, Stok BBM Dipastikan Aman

Taufan Sukma Abdi Putra 08/03/2026 21:42 WIB

Selain cadangan operasional, masih ada cadangan strategis dan cadangan penyangga energi. Sehingga masyarakat tidak perlu khawatir.

Cadangan Energi Nasional Berlapis, Stok BBM Dipastikan Aman (foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Pernyataan pemerintah yang sempat menyebut bahwa ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) secara nasional hanya tersedia untuk konsumsi 20 hari sempat memantik kegelisahan di masyarakat.

Yang jadi masalah, pernyataan yang disampaikan melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, tersebut disalahpahami dan diartikan tidak sesuai dengan konteks yang ada di lapangan.

Pasalnya, takaran setara konsumsi 20 hari yang dimaksud Bahlil tersebut merujuk pada kapasitas storage yang dimiliki Indonesia, dan bukan volume cadangan BBM yang tersisa saat ini.

"Jadi yang (cadangan) 20 hari itu cadangan operasional yang sifatnya sirkuler. Jadi bukan berarti setelah dikonsumsi 20 hari lalu habis. Bukan begitu. Jadi ketika (cadangan setara 20 hari) ini terpakai, ya akan diisi lagi. Dipasok lagi dari sumber-sumber impor. Hanya saja kapasitas storage yang kita punya memang segitu," ujar Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) M Kholid Syeirazi, dalam sebuah diskusi energi, yang digelar di Jakarta, Sabtu (8/3/2026).

Karenanya, dengan penjelasan demikian, Kholid mengimbau agar tidak panik, apalagi sampai terpancing untuk melakukan pembelian melebihi volume kebutuhan BBM yang sebenarnya (panic buying).

Terlebih, selain cadangan operasional dengan kapasitas setara konsumsi 20 hari itu, Kholid juga menyebut bahwa pemerintah masih memiliki jenis cadangan energi yang lain.

"Jadi kita itu punya tiga jenis energi. Selain cadangan operasional, masih ada lagi yang namanya cadangan strategis dan cadangan penyangga energi. Sehingga masyarakat kita harap tidak perlu khawatir, karena pasti aman," ujar Kholid.

Terkait jenis dan perbedaan dari ketiga jenis cadangan tersebut, Kholid menjelaskan bahwa cadangan operasional merupakan jenis cadangan energi yang disediakan oleh badan usaha seperti Pertamina, dan bersifat sirkuler untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Sedangkan cadangan penyangga energi lebih bersifat mandatory dan harus disediakan oleh Pemerintah, sesuai dengan kemampuan keuangan negara.

Ketentuan tersebut, menurut Kholid, telah diatur melalui Perpres Nomor 96 tahun 2024 tentang Cadangan Penyangga Energi (CPE) yang harus disediakan oleh pemerintah.  

Sementara cadangan strategis merupakan stok sumber daya energi (seperti minyak mentah atau BBM) yang sengaja disimpan oleh negara untuk menjamin ketahanan nasional dari gangguan pasokan, krisis, atau keadaan darurat, serta sebagai bantalan untuk kebutuhan masa depan.

Di lain pihak, imbauan senada juga disampaikan oleh Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, yang berharap agar masyarakat tidak panik, apalagi sampai terpancing untuk melakukan panic buying yang justru berpotensi memperburuk keadaan.

"Tidak perlu khawatir. Tidak perlu panik, apalagi sampai panic buying, lalu melakukan penimbunan yang justru dampaknya bakal buruk untuk perekonomian, untuk kita semua," ujar Komaidi, dalam kesempatan yang sama.

Menurut Komaidi, pemerintah melalui Pertamina secara berkala pasti tetap akan melakukan penambahan stok, sehingga tidak mungkin bakal habis dalam 20 hari ke depan. Terlebih, jelang datangnya momen Idulfitri, Pertamina dipastikan juga telah menyiapkan skenario pendistribusian BBM dengan baik dan maksimal, melalui Satgas Ramadan dan Idulfitri.

"Analoginya seperti toko saja, ketika stok laku, pasti akan diisi lagi dengan stok baru. Jadi sudah pasti aman. Stok di masing-masing wilayah saya kira juga pasti sudah diamankan, terkait momen Idulfitri ini. Jadi tidak usah khawatir. Kita insya allah masih bisa mudik dengan riang dan aman," ujar Komaidi.

(taufan sukma)

SHARE