Eneos Jepang Akuisisi Aset Kilang Chevron di Asia Senilai Rp38,5 Triliun
Kesepakatan tersebut, yang juga mencakup aset Chevron di Vietnam, Australia, Filipina, dan Malaysia, diperkirakan selesai pada 2027.
IDXChannel - Perusahaan kilang minyak Jepang, Eneos Holdings mengakuisisi 50 persen saham milik Chevron di Singapore Refining Company (SRC) serta aset lainnya di Asia Tenggara dan Australia dengan nilai hampir USD2,2 miliar atau setara Rp38,5 triliun (asumsi kurs Rp17.500 per USD).
Ini menjadi ekspansi pertama Eneos di bisnis kilang di luar Jepang.
Melansir Reuters, Kamis (14/5/2026), kesepakatan tersebut, yang juga mencakup aset Chevron di Vietnam, Australia, Filipina, dan Malaysia, diperkirakan selesai pada 2027.
Chevron sendiri tengah berupaya melepas aset kilang dan penyimpanan di Asia untuk merampingkan operasi dan menekan biaya.
“Investasi ini merupakan langkah penting dalam memperkuat platform bisnis yang menghubungkan Jepang dengan Asia Tenggara dan Oseania,” ujar CEO Eneos, Tomohide Miyata.
Eneos mengoperasikan sembilan kompleks kilang di Jepang, termasuk usaha patungan dengan PetroChina.
Pengumuman ini mengonfirmasi laporan Reuters sebelumnya bahwa penjualan kemungkinan akan diselesaikan pada Mei.
Divestasi Chevron
Singapore Refining Company (SRC) mengoperasikan kilang dengan kapasitas 290.000 barel per hari di Singapura. Separuh kepemilikan lainnya dipegang oleh PetroChina melalui anak usahanya, Singapore Petroleum Co.
“Kesepakatan ini mencerminkan pendekatan disiplin Chevron dalam mengelola portofolio internasionalnya,” kata presiden bisnis downstream, midstream, dan kimia Chevron, Andy Walz.
Penjualan saham SRC ini menjadi transaksi besar kedua di pusat minyak Asia setelah Shell menjual kompleks kilang dan petrokimia Bukom pada 2024.
Chevron sebelumnya juga telah menjual jaringan SPBU di Hong Kong kepada Bangchak Corp dari Thailand senilai USD270 juta.
Penjualan terbaru ini mencakup terminal Penjuru milik Chevron serta fasilitas pelumas di Singapura, dengan kapasitas penyimpanan sekitar 400.000 meter kubik (sekitar 2,5 juta barel minyak).
Mengambil alih terminal bahan bakar di salah satu pusat penyimpanan dan blending minyak terbesar dunia akan memperluas kemampuan trading Eneos, khususnya untuk bahan bakar olahan, menurut analis.
“Ini akan menjadi langkah strategis penting bagi Eneos untuk mengembangkan bisnis downstream, mengingat pasar domestik Jepang sudah jenuh dan diperkirakan akan menurun,” kata analis Wood Mackenzie, Sushant Gupta, merujuk pada penurunan permintaan jangka panjang di Jepang akibat populasi yang menyusut.
Bukan hanya kilangnya, tetapi aset-aset pendukung lainnya yang membuat kesepakatan ini semakin menarik.
(NIA DEVIYANA)