ECONOMICS

Gubernur BI Yakin Volatilitas Nilai Tukar Rupiah Mereda di Juli 2026

Anggie Ariesta 20/05/2026 18:55 WIB

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo meyakini volatilitas nilai tukar rupiah akan segera mereda dan kemudian bergerak stabil.

Gubernur BI Yakin Volatilitas Nilai Tukar Rupiah Mereda di Juli 2026. (Foto Istimewa)

IDXChannel - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo meyakini volatilitas nilai tukar rupiah akan segera mereda dan kemudian bergerak stabil hingga mencatatkan tren penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Hal ini diprediksi mulai terlihat pada periode Juli hingga Agustus 2026.

Mendasarkan pada kombinasi perbaikan data ekonomi serta siklus tahunan pasar valas, Perry optimistis rupiah akan segera keluar dari zona merah begitu memasuki paruh kedua tahun ini.

"Kenapa kami meyakini ini akan stabil di bulan Juni dan akan cenderung menguat pada bulan Juli dan Agustus? Kalau kita melihat histori itu memang rupiah itu mendapat tekanan April, Mei, Juni. Tapi akan menguat di bulan Juli dan Agustus. Kami meyakini rupiah akan stabil dan cenderung menguat ke depan," katanya dalam konferensi pers RDG BI di Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Langkah penyelamatan mata uang ini ditandai dengan keputusan BI mengerek BI Rate sebesar 50 basis points (bps) hingga bertengger di level 5,25 persen. Selaras dengan itu, suku bunga Deposit Facility diputuskan ikut terkerek naik sebesar 50 bps ke posisi 4,25 persen, diikuti suku bunga Lending Facility yang juga naik 50 bps menjadi 6,00 persen.

Perry menegaskan, jika ditinjau dari indikator fundamentalnya, nilai tukar rupiah saat ini sejatinya sedang berada di bawah nilai wajar atau mengalami kondisi undervalue.

Kejatuhan kurs yang terjadi belakangan ini murni disebabkan oleh hantaman sentimen eksternal mulai dari proteksionisme tarif dagang global, ketegangan militer di Timur Tengah, lonjakan harga komoditas energi, hingga kebijakan moneter restriktif dari bank-bank sentral utama dunia, terutama bank sentral AS (The Fed).

"Dengan harga minyak yang tinggi, pertumbuhan yang global yang menurun, inflasi global yang naik, arah suku bunga moneter di berbagai negara yang cenderung ketat termasuk Fed Fund Rate, suku bunga Yield, US Treasury yang meningkat tinggi dan dolar yang menguat. Itu faktor yang memberikan tekanan kepada pelemahan nilai tukar di hampir seluruh dunia termasuk rupiah," ujar Perry.

Selain dinamika eksternal, Perry tidak menampik adanya faktor pemicu dari dalam negeri yang turut menekan rupiah sejak memasuki kuartal II-2026.

Tekanan tersebut berasal dari melonjaknya kebutuhan valuta asing (valas) domestik yang bersifat siklikal atau musiman sepanjang April hingga Juni.

Lonjakan permintaan dolar AS di pasar dalam negeri tersebut didominasi oleh penyerapan dana untuk keperluan ibadah haji dan umrah, kewajiban pelunasan utang luar negeri korporasi yang jatuh tempo, serta jadwal remitansi atau pembagian dividen tahunan perusahaan kepada investor asing.

"Itu yang kemudian kondisi global yang mengakibatkan capital outflow di tengah permintaan valas domestik hingga Juni memang itu masih tinggi," kata Perry.

Meski dihantam sentimen berlapis, Perry menegaskan, fondasi makroekonomi dalam negeri saat ini sangat kokoh dan memiliki daya tolak yang kuat terhadap krisis. Indikator positif itu tercermin dari angka defisit transaksi berjalan yang relatif kecil, laju pertumbuhan ekonomi nasional yang melesat tinggi, serta tingkat inflasi yang masih sangat jinak.

Di waktu yang sama, amunisi moneter BI berupa intervensi pasar valas yang masif dan kebijakan menaikkan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) terbukti ampuh menjaring kembali modal asing (capital inflows) untuk masuk ke pasar keuangan domestik.

(Dhera Arizona)

SHARE