Harga Avtur Melonjak Imbas Perang, IATA Proyeksikan Ada Maskapai Bangkrut Sepanjang 2026
IATA menyebut maskapai yang menawarkan tiket murah (budget) adalah kategori maskapai yang paling terguncang secara ekonomi.
IDXChannel—The International Air Transport Association (IATA) memperkirakan lonjakan harga avtur akan mengakibatkan banyak maskapai penerbangan jatuh bangkrut tahun ini atau diambil alih oleh maskapai besar, bahkan hingga tahun depan.
Melansir Reuters (8/6/2026), maskapai yang menawarkan tiket murah (budget) adalah kategori maskapai yang paling terguncang secara ekonomi. Pasalnya, maskapai seperti ini tidak memiliki sumber pemasukan yang beragam.
Berbeda dengan maskapai standar atau mewah yang memiliki sumber pendapatan lain yang masih dapat diandalkan dari segmen kabin premium, program loyalitas kartu kredit, dan sebagainya.
“Sayangnya, saya kira akan ada beberapa maskapai yang kesulitan menangani lonjakan harga bahan bakar,” tutur Direktur IATA Willie Walsh.
Apalagi, biaya avtur mencakup 25-30 persen dari total biaya operasional maskapai. Sementara itu, kenaikan harga avtur selama perang antara Iran dan Amerika Serikat berlangsung ternyata lebih tinggi dari perkiraan banyak orang.
IATA bahkan memperkirakan total biaya avtur ratusan maskapai dalam naungannya bisa mencapai USD350 miliar, meningkat secara signifikan dari total biaya avtur IATA sepanjang 2025 yang hanya USD252 miliar saja.
Selain itu, maskapai juga diperkirakan akan memangkas rute-rute yang kurang menguntungkan. Hal ini telah dilakukan oleh Lufthansa Group dengan menghentikan 20.000 rute jarak pendek dan menghemat 40.000 ton bahan bakar.
Kemudian, tekanan pada industri penerbangan juga diperparah oleh keterlambatan pengantaran pesawat oleh produsen seperti Boeing dan Airbus. Sehingga, maskapai tidak dapat menambah armada dan memperbaiki tingkat efisiensinya.
Walsh mengatakan maskapai mulai kesal dengan keterlambatan pengiriman ini. Dia memperkirakan hambatan supply chain ini mengakibatkan kerugian hingga USD11 miliar sepanjang tahun lalu.
“Kami kecewa bukan karena mereka tidak bergerak lebih cepat, tetapi karena mereka tidak merasakan kesulitan seperti yang dialami maskapai,” kata Walsh.
Lebih lanjut, dia memperkirakan dua produsen pesawat terbang itu berpeluang menghadapi kompetitor anyar dari China. Meskipun saat ini China masih menghadapi banyak hambatan, Walsh optimistis bahwa dalam 10-15 tahun ke depan pesawat buatan China akan populer.
(Nadya Kurnia)