Harga LNG untuk Industri Turun, Ancaman PHK Mulai Mereda
Pemerintah memutuskan untuk menurunkan harga gas industri, khususnya gas alam cair (liquified natural gas atau LNG) menjadi USD13 per MMBTU.
IDXChannel - Pemerintah memutuskan untuk menurunkan harga gas industri, khususnya gas alam cair (liquified natural gas atau LNG) menjadi USD13 per MMBTU. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi biaya produksi yang membutuhkan banyak gas, sehingga potensi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dapat dihindari.
Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal mengapresiasi langkah Presiden Prabowo Subianto yang menurunkan harga LNG. Kebijakan ini membantu meredakan ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK), khususnya di sektor granit, keramik, dan tekstil.
Said mengatakan, penurunan harga gas merupakan hasil pembahasan dalam Satuan Tugas (Satgas) PHK yang dipimpin Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi bersama Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad. Usulan dari pelaku usaha semula meminta harga gas diturunkan dari sekitar USD23 per MMBTU menjadi USD15 per MMBtu.
"Yang diminta oleh dunia usaha sebenarnya dari USD23 per MMBTU turun menjadi USD15. Ternyata Presiden menurunkan lagi menjadi USD13 per MMBTU," ujarnya saat ditemui di Wisma Danantara, Jakarta, Rabu (1/7/2026).
Said mengatakan, berdasarkan laporan yang diterima Satgas PHK, perusahaan-perusahaan di sektor granit dan keramik mulai memperoleh ruang untuk memperbaiki struktur biaya setelah harga gas diturunkan. Kondisi tersebut membuat perusahaan memilih menahan rencana PHK.
"Laporan terakhir dua hari yang lalu, perusahaan-perusahaan granit dan keramik sementara ini lega di struktur biayanya dan tidak melakukan PHK," katanya.
Kendati demikian, Said mengakui masih terdapat perusahaan yang melakukan efisiensi seperti PT Granito. Namun, dia menegaskan jumlah pekerja yang terdampak jauh lebih kecil dibandingkan angka yang sempat beredar.
"Granito memang melakukan PHK, tetapi hanya ratusan pekerja. Itu pun karena perusahaan melakukan diversifikasi usaha ke produk asbes, bukan lagi berfokus pada granit," ujarnya.
Dia menilai tantangan industri kini bergeser dari persoalan biaya energi menjadi persaingan dengan produk impor, terutama granit dan keramik asal China yang dijual dengan harga jauh lebih murah.
"Sekarang tantangannya setelah harga gas turun adalah menghadapi impor granit dan keramik yang harganya sekitar 50 persen lebih murah. Itu yang sedang didiskusikan oleh Satgas PHK," katanya.
Dia menambahkan, industri yang paling banyak memanfaatkan gas bumi nonsubsidi berada di wilayah Jawa, terutama di Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Kebijakan harga gas dinilai sangat menentukan keberlangsungan sektor manufaktur di wilayah tersebut meski berlaku secara nasional.
(Rahmat Fiansyah)