ECONOMICS

IAP: Jakarta Jadi Primate City, CBD di Kawasan Penyangga Juga Perlu Punya CBD

Dhera Arizona Pratiwi 21/08/2026 18:10 WIB

Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) menilai Jakarta telah menjadi metropolitan dan menjadi Primate City yang perkembangannya sangat dominan dengan kota lainnya.

IAP: Jakarta Jadi Primate City, CBD di Kawasan Penyangga Juga Perlu Punya CBD. (Foto Istimewa)

IDXChannel - Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) menilai Jakarta telah menjadi metropolitan dan menjadi Primate City yang perkembangannya sangat dominan dengan kota lainnya. Namun, kawasan Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek) perlu dikembangkan menjadi pusat bisnis kedua (second central business district/CBD) di kawasan aglomerasi Jakarta.

Ketua Umum IAP Adriadi Dimastanto mengatakan, pengembangan ini harus dilakukan agar tidak tergantung pada Jakarta, khususnya pekerjaan. Sebab, Jakarta telah menjadi Primate City yang sangat dominan dengan kota lainnya dan sangat jauh disparitasnya, ketimpangannya antara Jakarta (dengan kota sekitarnya.

“Contohnya, ketimpangan anggaran anatara Jakarta dan kota di sekitarnya. Jakarta memiliki anggaran hingga Rp80 triliun, sedangkan Depok hanya sekitar Rp2-Rp3 triliun,” ujarnya dalam acara Rakornas IAP, Jakarta, ditulis Jumat (21/8/2026).

Menurutnya, apa yang terjadi di Jakarta itu berpengaruh ke kawasan sekitarnya karena ikut menampung Jakarta. Kondisi tersebut terjadi karena banyak masyarakat yang bekerja di Jakarta tetapi tinggal di kota-kota sekitar.

“Saat ini Bekasi, Depok, Bogor, Tangerang menampung beban Jakarta. Masyarakat bekerja di Jakarta, tinggal di Bodetabek," katanya.

Alhasil, kondisi tersebut membuat perkembangan kabupaten/kota di Bodetabek kian melebar secara sporadis atau urban sprawl. Maka diperlukan orientasi baru dalam pengembangan kawasan metropolitan. 

"Jadi sebetulnya harus tuh punya orientasi-orientasi baru. Jadi kalau Jakarta kita sebut sebagai pusat CBD, kita harus punya second-second CBD. Jadi harusnya Bekasi, Depok, Bogor, Tangerang itu menjadi second CBD," ujar Adriadi.

Dengan konsep ini, kata dia, masyarakat di Bodetabek tidak perlu pergi ke Jakarta setiap hari untuk memenuhi kebutuhan layanan. Fasilitas seperti rumah sakit, sekolah, hingga layanan rekreasi perlu tersedia di kota-kota tersebut. 

Namun, dia menekankan pembangunan fasilitas saja tidak cukup. Kabupaten/Kota Bodetabek juga harus memiliki lapangan pekerjaan yang memadai.

Adriadi membandingkan konsep tersebut dengan kawasan Greater Tokyo di Jepang. Tokyo menjadi CBD utama, sementara kota seperti Yokohama, Chiba, dan Kawasaki berkembang sebagai pusat-pusat kegiatan ekonomi lainnya. 

"Jadi kalau kita bisa menciptakan lapangan-lapangan kerja baru di ring luar ini, itu akan membuat warga/penduduk itu enggak bergantung lagi ke Jakarta," katanya.

Sementara itu, Ketua IAP Jakarta Meyriana Kesuma menyampaikan, hampir seluruh wilayah di sekitar Jakarta telah berkembang, namun persoalan utama saat ini adalah pemerataan pembangunan dan integrasi kawasan.

Selain itu, tingginya harga tanah juga membuat masyarakat, termasuk generasi muda, semakin sulit memiliki rumah di kawasan sekitar Jakarta.

“Pemerataan tidak hanya menyangkut hunian, tetapi juga harus diikuti dengan ketersediaan lapangan pekerjaan di masing-masing wilayah. Kalau Tangerang sudah mahal tapi dia  tidak punya tadi pekerjaan, itu juga agak sulit kan. Jadi tetap harus ada pemerataan," katanya.

Transportasi Publik Wajib Ikut Dikembangkan

Adriadi menyatakan, pengembangan transportasi publik hingga wilayah yang lebih jauh dapat menjadi salah satu peluang untuk mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi sekaligus membuka pilihan hunian bagi pekerja Jakarta.

"Dengan memperbanyak dan memperpanjang rute transportasi umum ini bisa menajdi peluang. Pertama mengurangi ketergantungan pada kendaraan. Dua, bisa menjadi solusi untuk rumah tinggal juga bagi para pekerja Jakarta," ujar dia.

Adriadi mengingatkan perlu ada kesiapan tata kota di wilayah yang menjadi pusat kedua tersebut agar pengembangan transportasi tidak justru memicu pertumbuhan permukiman secara sporadis. "Kalau si kota-kota yang second ini enggak disiapkan dengan baik, itu mereka akan tumbuh secara sporadis juga nantinya," ujarnya.

Adriadi menambahkan, Dewan Kawasan Aglomerasi Jakarta yang tengah digodok diharapkan  menjadi solusi dalam mengintegrasikan tata kelola dan pembiayaan kawasan metropolitan. 

"Harapannya memang itu bisa menjadi solusi terutama budgeting. Budgeting dari si kawasan metropolitan ini," katanya.

Sebab, kata dia, kota-kota kedua di sekitar Jakarta menghadapi tantangan besar karena harus menanggung beban pertumbuhan kawasan metropolitan, tetapi memiliki keterbatasan dalam pembiayaan pembangunan. "Jadi harus dipikirkan ini yang bisa integrated dari sisi tata kelola dan pembiayaan," kata Adriadi.

ICAPPS 2026

Selain menggelar Rakornas, IAP juga menggelar International Conference of Asia-Pacific Planning Societies (ICAPPS). Forum internasional ini mempertemukan perencana kota dari lima negara, yakni Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan Vietnam, untuk merumuskan arah pembangunan kota masa depan.

Adriadi menegaskan, kegiatan ini berfokus pada konsep next generation cities. Menurutnya, perencanaan kota saat ini harus mampu beradaptasi dengan perubahan pola hidup masyarakat yang dipicu oleh perkembangan teknologi dan pergeseran karakter generasi.

"Sebuah kota jangan direncanakan untuk hari ini, tapi untuk masa depan dan harus bisa menjawab karakter semua lapisan masyarakat. Seperti bagaimana disrupsi teknologi telah mengubah mobilitas dan cara masyarakat berinteraksi dengan ruang perkotaan, sehingga perencanaan harus diproyeksikan untuk 20 hingga 30 tahun ke depan," ujarnya.

(Dhera Arizona)

SHARE