ECONOMICS

ID FOOD Luncurkan Digitalisasi Warung Pangan untuk Perkuat Ekosistem Distribusi

Rohman Wibowo 20/07/2026 22:17 WIB

ID FOOD meluncurkan platform Warung Pangan yang kini bertransformasi menjadi ekosistem perdagangan digital terpadu. 

ID FOOD Luncurkan Digitalisasi Warung Pangan untuk Perkuat Ekosistem Distribusi. (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Holding BUMN Pangan ID FOOD meluncurkan platform Warung Pangan yang kini bertransformasi menjadi ekosistem perdagangan digital terpadu. 

Inovasi ini digadang-gadang dapat mengoptimalkan perencanaan distribusi, analisis pasar, serta pemantauan cadangan pangan nasional guna menjaga stabilitas pasokan dan memperluas akses masyarakat terhadap pangan pokok.

Direktur Utama ID FOOD, Ghimoyo, menyatakan pengembangan platform ini merupakan langkah nyata perusahaan dalam mendukung visi Danantara untuk memperkuat tata niaga pangan berbasis teknologi.

“Warung Pangan di ID FOOD Group saat ini, diperkuat sebagai ekosistem distribusi yang lebih terstruktur dan berbasis data, mulai dari perencanaan pasokan, penyaluran produk, hingga pemantauan kebutuhan pasar,” ujar Ghimoyo dalam keterangan resminya, Senin (20/7/2026).

Pada tahap awal, distribusi dilakukan secara serentak melalui 32 titik stok poin yang melayani 640 mitra warung di wilayah Jabodetabek. Ghimoyo menekankan soal model bisnis ini menggunakan sistem berjenjang untuk memperpendek rantai pasok.

“Model distribusinya dibangun secara berjenjang. Stok Poin Warung Pangan sebagai jaringan Tier 1 berperan sebagai titik layanan dan distribusi, sedangkan Mitra Warung Pangan sebagai Tier 2 mendekatkan produk kepada konsumen,” jelasnya.

Adapun platform ini menyediakan 12 jenis produk pangan pokok, termasuk minyak goreng premium, beras premium, serta gula. Pelaksanaannya dikawal langsung oleh dua anak perusahaan ID FOOD, yakni PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero) dan PT Rajawali Nusindo.

Lebih lanjut, Ghimoyo menegaskan soal seluruh transaksi dalam ekosistem ini akan menghasilkan data riil yang menjadi aset strategis perusahaan. Data tersebut nantinya digunakan untuk memetakan pola permintaan, menentukan skala prioritas produk, serta mengidentifikasi wilayah yang membutuhkan intervensi pasokan.

“Data transaksi dan pergerakan produk akan digunakan untuk membaca pola permintaan, menentukan produk prioritas, dan mengidentifikasi wilayah yang memerlukan penguatan pasokan," tutur Ghimoyo.

(Febrina Ratna Iskana)

SHARE