InJourney Targetkan Kelola 106 Hotel BUMN Pascakonsolidasi
InJourney berharap bisa mengelola 106 hotel pasca konsolidasi bisnis hotel di bawah perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
IDXChannel - Holding BUMN sektor aviasi dan pariwisata, PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney berharap bisa mengelola 106 hotel pascakonsolidasi bisnis hotel di bawah perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
Direktur Utama InJourney, Maya Watono mengatakan, saat ini perseroan baru mengelola 40 hotel di bawah PT Hotel Indonesia Natour (InJourney Hospitality). Sementara itu, ada 66 hotel yang masuk dalam pipeline (antrean) InJourney untuk dikelola di bawah InJourney Hospitality pasca konsolidasi bisnis BUMN.
"InJourney Hospitality kami me-manage (mengelola) 40 hotel di seluruh Indonesia. Tapi nantinya kami akan mengonsolidasi berbagai hotel BUMN under InJourney. Sampai nanti jadi 106 hotel yang dikonsolidasi di bawah InJourney Hospitality," ujar Maya dalam konferensi pers di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Rabu (11/3/2026).
Maya menjelaskan, InJourney memiliki role bisnis untuk membangun ekosistem pariwisata dari hulu ke hilir. Konsolidasi bisnis ini ditargetkan mampu menarik potensi pariwisata dengan menawarkan kemudahan akses yang terintegrasi mulai dari transportasi, melalui penerbangan, destinasi wisata, hingga perhotelan.
"Role (peran) kami membangun ekosistem pariwisata dari hulu ke hilir, jadi bagaimana yang sebelumnya bekerja secara silo, kita sekarang mengintegrasikan semua services, layanan kepada publik kepada masyarakat," lanjutnya.
Dia mengatakan sektor pariwisata cukup berdampak terhadap perekonomian. Setiap 1 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) diperkirakan mampu memberikan dampak Rp40 triliun terhadap Gross Domestic Product (GDP).
"Bisa dibayangkan kalau penambahannya 10 juta (wisman), itu berarti Rp400 (triliun) GDP. Jadi memang impact (dampak) ekonomi dari aviasi dan pariwisata ini sangat besar, dan bisa menghasilkan perputaran ekonomi yang besar bagi Indonesia," katanya.
Sebelumnya, Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria mengatakan saat ini masih banyak antarperusahaan BUMN yang memiliki model bisnis yang sama. Hal ini dinilai kurang efisien dan menciptakan persaingan yang kurang baik antara perusahaan negara. Kedepan perusahaan negara yang bergerak di sektor yang sama akan digabung, seperti halnya yang tengah dilakukan untuk BUMN Karya.
Menurut Dony, dengan menggabungkan anak-anak perusahaan BUMN bergerak di sektor yang sama maka bisa lebih membesarkan ukuran perusahaan. Selain itu bisa bekerja lebih fokus untuk membawa dampak ekonomi yang jauh lebih besar.
"Kita cukup melakukan merger dan akuisisi di antara perusahaan kita. Bahkan kita bisa melakukan penarikan modal, memindahkannya. Contoh misal kita punya 130 hotel yang tersebar di berbagai macam perusahaan, yang juga tidak dikelola secara profesional. Nanti kita akan tarik hotel-hotel itu menjadi satu holding hotel," kata Dony (19/6/2025).
Dony menambahkan konsep ini akan membuat perampingan dari sisi jumlah perusahaan BUMN. Jumlah perusahaan BUMN yang saat ini sekitar 888, diperkirakan hanya disisakan tidak lebih dari 200 perusahaan.
(Rahmat Fiansyah)