ECONOMICS

Kemenkeu Optimistis Pertumbuhan Ekonomi 2026 Capai 5,5 Persen

Anggie Ariesta 09/04/2026 15:53 WIB

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu mencapai angka 5,5 persen pada tahun 2026.

Kemenkeu Optimistis Pertumbuhan Ekonomi 2026 Capai 5,5 Persen (FOTO:iNews Media Group)

IDXChannel – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu mencapai angka 5,5 persen pada tahun 2026. 

Sikap ini merupakan bentuk keyakinan pemerintah meskipun Bank Dunia (World Bank) baru saja memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional ke level 4,7 persen.

Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu, Febrio Nathan Kacaribu menjelaskan bahwa estimasi Bank Dunia sering kali berada di bawah realisasi yang berhasil dicapai pemerintah. Ia mencontohkan pada tahun 2025, Bank Dunia memprediksi pertumbuhan sebesar 4,8 persen, namun Indonesia mampu membuktikan performa yang lebih baik dengan tumbuh sebesar 5,11 persen.

"Jadi enggak apa-apa, ini kita senang bahwa World Bank dan investor-investor yang lain itu ingin sekali memantau perekonomian Indonesia dan kita bisa deliver dan itu menjadi kabar baik bagi investor," kata Febrio di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah RI (Bakom RI), Kamis (9/4/2026).

Febrio mendasarkan optimismenya pada penguatan struktur ekonomi domestik. Sektor pertanian kini menjadi sorotan utama setelah berhasil tumbuh di atas 5 persen pada 2025, jauh melampaui tren tahun-tahun sebelumnya yang berada di bawah 2 persen.

Febrio menyebutkan arahan Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat belanja sektor pertanian telah membuahkan hasil nyata, terutama dengan dukungan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang meningkatkan penyerapan hasil tani.

"Jumlah tenaga kerja yang kerja di sektor pertanian itu sekitar 40 juta. Nah jadi sektor yang sangat penting. Selama ini tumbuhnya lambat. Panen langsung naik. Untuk beras itu di atas 13-14 persen pertumbuhannya tahun lalu. Lalu MBG (makan bergizi gratis) itu permintaan terhadap produk pertanian itu meningkat tinggi sekali," kata Febrio.

Selain itu, sektor manufaktur juga menunjukkan performa dinamis dengan pertumbuhan sebesar 5,4 persen pada tahun lalu, yang menjadi modal kuat untuk melanjutkan tren positif di tahun 2026.

Salah satu mesin penggerak utama pada kuartal I-2026 adalah eksekusi belanja negara yang sangat cepat. Kemenkeu mencatat adanya lonjakan signifikan belanja negara menjadi Rp815 triliun pada kuartal pertama tahun ini, naik dari posisi tahun sebelumnya yang berada di kisaran Rp600 triliun.

"Ini (belanja negara) pertumbuhan 30 persen. Nah ini pasti langsung akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi untuk kuartal I/2026. Makanya yakin 5,5 persen (pertumbuhan ekonomi) akan tetap," tutur Febrio.

Di sisi lain, Bank Dunia dalam laporan East Asia & Pacific Economic Update edisi April 2026 menekankan bahwa ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi beban berat bagi kawasan Asia Timur dan Pasifik. Kenaikan harga energi dunia akibat konflik tersebut diprediksi akan menekan laju PDB Indonesia.

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan melambat ke level 4,7 persen, lantaran tekanan dari tingginya harga minyak dan sentimen penghindaran risiko (risk-off) hanya akan diimbangi sebagian oleh penerimaan komoditas dan inisiatif investasi yang digerakkan oleh negara," tulis laporan Bank Dunia tersebut.

(kunthi fahmar sandy)

SHARE