ECONOMICS

Masuk Fase Kontraksi, PMI Manufaktur RI Turun ke 46,9 pada Juni 2026

Nia Deviyana 01/07/2026 15:51 WIB

Sektor manufaktur Indonesia masuk ke dalam fase kontraksi pada Juni 2026.

Masuk Fase Kontraksi, PMI Manufaktur RI Turun ke 46,9 pada Juni 2026. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Sektor manufaktur Indonesia masuk ke dalam fase kontraksi pada Juni 2026. Data Purchasing Managers’ Index (PMI) yang dirilis S&P mencatat PMI Manufaktur Indonesia berada pada level 46,9 atau turun dari 50,0 pada Mei 2025. Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, mencatat dua kali penurunan manufaktur Indonesia dalam tiga bulan terakhir menutup semester pertama 2026.

Adapun penyebab utama penurunan pada Juni adalah melemahnya permintaan atas barang manufaktur Indonesia. Pesanan baru turun untuk pertama kali dalam tiga bulan dan pada laju tercepat dalam setahun. Pelaku industri mengaitkan penurunan tersebut dengan melemahnya daya beli yang dipicu tekanan harga.

Selain itu, penurunan juga terjadi pada pesanan ekspor baru, yang tercatat paling tajam sejak Agustus 2021. Tren negatif permintaan mendorong perusahaan menurunkan output selama empat bulan berturut-turut dan paling tajam sejak April 2025. Penurunan kebutuhan produksi dan permintaan juga menghambat ketersediaan stok, sehingga stok barang jadi menurun selama dua bulan berjalan dan pada laju lebih cepat dibandingkan Mei 2026.

Produsen barang juga menurunkan jumlah tenaga kerja lebih banyak pada Juni. Laju PHK tergolong solid namun merupakan yang paling besar sejak September 2021. Pada saat yang sama, aktivitas belanja bahan baku turun selama empat bulan berturut-turut dan pada laju tercepat sejak Agustus 2021. Beberapa perusahaan mencatat bahwa kenaikan harga bahan baku dan kendala pasokan juga menghambat aktivitas pembelian.

“Tekanan harga tetap berada pada level yang sangat tinggi. Produsen kembali melaporkan lonjakan biaya rata-rata akibat kenaikan harga bahan baku. Inflasi biaya menjadi yang tertinggi kedua dalam sejarah survei dan mendorong kenaikan harga jual pabrik paling tinggi dalam hampir 13 tahun,” ujar Usamah alam laporannya, Rabu (1/7/2026).

Sementara itu, tingkat inflasi harga jual merupakan yang paling besar sejak September 2013. Tekanan harga dilaporkan juga berperan pada tertundanya rantai pasok pada Juni.

Meski demikian, tingkat keyakinan pelaku usaha terhadap prospek 12 bulan mendatang membaik dibandingkan Mei dan mencapai posisi tertinggi dalam tiga bulan. Optimisme didorong oleh harapan tekanan harga akan berkurang, sehingga membantu mendorong penjualan dan pertumbuhan output.

(NIA DEVIYANA)

SHARE