Mengenal Paradox of Choice: Definisi dan Strateginya dalam Bisnis
Paradox of choice merupakan sebuah kondisi ketika kita merasa kebingungan justru saat dihadapkan pada berbagai pilihan.
IDXChannel – Apa itu paradox of choice? Paradox of choice merupakan sebuah kondisi ketika kita merasa kebingungan justru saat dihadapkan pada berbagai pilihan. Dalam buku The Paradox of Choice: Why More Is Less, Barry Schwartz mengungkapkan bahwa menghilangkan pilihan justru dapat mengurangi kegelisahan konsumen ketika berbelanja.
Lalu apa itu paradox of choice dan bagaimana penerapan strateginya dalam pemasaran sebuah bisnis? Agar lebih jelas, IDXChannel merangkum definisi dan strategi paradox of choice sebagai berikut.
Definisi Paradox of Choice
Paradox of choice adalah kondisi di mana ada pilihan yang terlalu banyak yang mengharuskan setiap konsumen untuk membuat keputusan penting melalui berbagai pertimbangan dalam waktu yang singkat.
Pilihan yang terlalu banyak ini mengakibatkan konsumen merasa kesulitan untuk memutuskan suatu hal. Pada akhirnya, konsumen tersebut tidak akan memilih apa-apa. Tak hanya itu, meskipun konsumen telah menetapkan satu pilihan dari sekian banyak pilihan ini, tingkat kepuasannya akan pilihan tersebut tidak maksimal.
Istilah ini diperkenalkan oleh seorang psikolog bernama Barry Schwartz dalam bukunya yang berjudul The Paradox of Choice - Why More Is Less yang terbit pada tahun 2004.
Dalam buku ini, Schwartz menyampaikan bahwa semakin banyak pilihan, justru semakin membuat kita suntuk, bingung, dan cenderung tidak bisa bahagia. Ketika ada terlalu banyak pilihan, kita akan cenderung terlalu lama berpikir dan meningbang-nimbang. Akan timbul perasaan was-was manakala pilihan yang kita pilih justru bukanlah pilihan terbaik. Terlalu lama berpikir akan berujung pada keputusan menjatuhkan pilihan yang kurang memuaskan.
Kondisi ini, seringkali kita jumpai ketika kita memilih barang di marketplace. Terlalu banyak pilihan barang yang tampaknya bagus, justru membuat kita kebingungan dan akhirnya memilih barang yang kita sendiri belum tentu yakin bahwa barang tersebut adalah pilihan terbaik. Tak jarang juga, kita justru tidak jadi membeli barang tersebut. Kondisi inilah yang dinamakan paradox of choice.
Mengapa kondisi demikian disebut sebagai paradox? Menurut Schwartz, setiap manusia menginginkan kesejahteraan. Dalam mendapatkan kesejahteraan, kita membutuhkan kebebasan. Untuk mendapatkan kebebasan ini kita membutuhkan banyak pilihan. Dengan demikian, ketika ada banyak pilihan, kita memiliki lebih banyak kebebasan.
Padahal, dari pilihan yang terlalu banyak ini kita belum tentu mendapatkan kesejahteraan. Sebaliknya, kita justru merasakan kebingungan dan kegelisahan. Inilah titik paradoksnya.
Seperti diketahui bahwa paradoks adalah situasi yang muncul dari sejumlah premis yang diakui kebenarannya yang bertolak dari suatu pernyataan dan akan menuju ke sebuah kontradiksi. Secara sederhana, paradoks adalah sesuatu yang bertentangan dari pernyataan sebelumnya.
Strategi Paradox of Choice
Strategi paradox of choice ini biasa diterapkan dalam sebuah bisnis. Untuk meningkatkan ketepatan pilihan konsumen, strategi paradox of choice yang diterapkan adalah limitasi pilihan pelayanan. Perusahaan harus mampu memberikan pilihan produk yang tidak terlalu banyak namun tepat sasaran.
Sebagai contoh, salah satu perusahaan rintisan yang berfokus pada gaya hidup aktif dan sehat, The Fit Company, menerapkan strategi ini dengan menawarkan jenis olahraga yang tidak terlalu beragam.
Perusahaan ini membagi produknya hanya ke dalam dua pilihan utama yaitu micro-gym dengan teknologi Electro Muscle Stimulation (EMS) melalui brand 20FIT dan lifestyle boutique gym di FITSTOP.
Micro-gym berfokus pada olahraga efektif dalam waktu terbatas. Sementara itu, lifestyle boutique gym ditujukkan bagi konsumen yang menyukai jenis olahraga secara komunal dan dinamis.
Adanya limitasi pilihan ini justru membantu konsumen lebih mudah dalam mengambil keputusan.
Dari penjelasan IDXChannel ini dapat disimpulkan bahwa paradox of choice merupakan kondisi ketika adanya beragam pilihan yang justru membuat seseorang merasa bingung dan kesulitan mengambil keputusan. Alih-alih mendapat kebebasan, kita justru akan mengalami kelelahan mental karena pilihan yang terlalu banyak.