Pejabat AS Ungkap Kemungkinan China Impor Energi Lebih Banyak Usai Pertemuan Trump- Xi Jinping
Xi menyampaikan ketertarikan untuk membeli lebih banyak minyak AS guna mengurangi ketergantungan China pada Selat Hormuz.
IDXChannel - Pejabat Amerika Serikat (AS) mengemukakan kemungkinan China membeli lebih banyak energi dari AS setelah Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping mengadakan pembicaraan di Beijing pada Kamis (14/5/2026) waktu setempat.
Melansir Reuters, Gedung Putih menyatakan, Xi menyampaikan ketertarikan untuk membeli lebih banyak minyak AS guna mengurangi ketergantungan China pada Selat Hormuz, dalam ringkasan hasil pertemuan yang berlangsung lebih dari dua jam dan dirilis setelah pertemuan berakhir.
Tak lama setelah itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan mereka telah membahas kemungkinan Beijing membeli lebih banyak energi, dan produksi dari Alaska akan menjadi pilihan yang masuk akal bagi China.
Tidak ada penyebutan mengenai pembelian energi dalam ringkasan pertemuan versi China yang dipublikasikan oleh media pemerintah. Kementerian Luar Negeri China juga tidak menanggapi permintaan komentar.
Kamis merupakan hari pertama dari pertemuan puncak dua hari yang menurut media pemerintah China, akan menetapkan arah baru hubungan kedua negara.
Pembelian energi dan produk pertanian AS oleh China disebut-sebut sebagai bagian potensial dari kesepakatan, meskipun belum ada rincian konkret yang diumumkan.
China belum mengimpor minyak dari AS sejak Mei 2025 akibat tarif 20 persen yang diberlakukan selama perang dagang, dan penghapusan tarif tersebut kemungkinan menjadi syarat utama untuk melanjutkan kembali pembelian dalam skala besar.
Bahkan pada puncaknya, AS tidak pernah menjadi pemasok utama minyak mentah bagi negara pengimpor minyak terbesar di dunia tersebut.
Impor minyak AS oleh China mencapai puncak sekitar 395.000 barel per hari pada 2020, atau kurang dari 4 persen dari total impor China.
Pada 2024, sebelum Trump kembali menjabat, angka tersebut turun menjadi 193.000 barel per hari dengan nilai sekitar USD6 miliar.
Ketua perusahaan minyak milik negara China, CNPC, yang memiliki kontrak jangka panjang dengan produsen gas alam cair (LNG) AS, dijadwalkan menghadiri jamuan makan di Beijing pada Kamis bersama delegasi AS.
Reuters sebelumnya melaporkan bahwa AS dan China diperkirakan bergerak menuju mekanisme perdagangan untuk barang non-sensitif pekan ini, dengan masing-masing pihak kemungkinan mengidentifikasi sekitar USD30 miliar nilai barang yang dapat dikenakan penurunan tarif.
(NI DEVIYANA)