Rupiah Sepekan Koreksi 0,23 Persen Imbas Sentimen Global dan Domestik
Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa pelemahan rupiah sepekan ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal dan internal.
IDXChannel - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menutup perdagangan pekan ini di zona merah.
Tekanan beruntun dari eskalasi ketegangan geopolitik global serta kondisi ekonomi domestik yang masih melambat menjadi pemicu utama koreksi mata uang Garuda dalam sepekan terakhir.
Mengutip data Bloomberg, rupiah di pasar spot berada di level Rp17.963 per dolar AS pada penutupan Jumat, atau melemah 0,15 persen secara harian. Untuk sepekan, rupiah tercatat terkoreksi 0,23 persen dibandingkan posisi penutupan pekan sebelumnya pada Jumat (17/7/2026) yang berada di level Rp17.921 per dolar AS.
Kondisi serupa tecermin pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia yang ditutup melemah 0,32 persen secara harian ke level Rp17.973 per dolar AS pada Jumat. Secara mingguan, kurs Jisdor mengalami penurunan sebesar 0,16 persen dari posisi Rp17.944 per dolar AS pada akhir pekan lalu.
Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa pelemahan rupiah sepekan ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal dan internal. Dari mancanegara, perhatian pelaku pasar tertuju pada memanasnya kembali konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran.
Serangan pasukan AS ke sejumlah fasilitas militer Iran dibalas dengan gempuran ke posisi militer AS di Bahrain, Kuwait, hingga Yordania. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap kelancaran jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang berpotensi mengganggu pasokan minyak dunia serta melambungkan biaya pengiriman dan premi asuransi.
“Pertempuran yang kembali memanas ini merupakan permusuhan terburuk AS-Iran sejak sebelum gencatan senjata April lalu, dengan pembicaraan damai antara kedua pihak tampaknya telah sepenuhnya gagal,” kata Ibrahim dalam risetnya, Sabtu (25/7/2026).
Ibrahim menambahkan, lonjakan harga minyak mentah akibat ketegangan tersebut turut meningkatkan risiko inflasi global. Hal ini berpotensi mendorong Federal Reserve (The Fed) untuk mempertahankan suku bunga acuan di level tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama (higher for longer), sehingga memberikan topangan kuat bagi penguatan dolar AS.
Dari dalam negeri, Ibrahim menilai laju rupiah sepekan ini turut terbebani oleh lambatnya pemulihan ekonomi nasional. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan masih tertahan di bawah kisaran 5 persen akibat investasi yang belum solid serta konsumsi rumah tangga yang cenderung lesu.
Kondisi tersebut membuat pelaku usaha memilih untuk bersikap wait and see dalam melakukan ekspansi bisnis di tengah ketidakpastian ekonomi dan tingginya biaya pendanaan. Di sisi lain, langkah Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga acuan sejauh ini belum cukup memberikan dorongan bagi penguatan rupiah.
Untuk perdagangan sepekan mendatang, Ibrahim memproyeksikan pergerakan nilai tukar rupiah akan berada pada rentang Rp17.880 hingga Rp18.250 per dolar AS.
(Nur Ichsan Yuniarto)