ECOTAINMENT

Kemenkes RI: Plasma Bukan Sekadar Komponen Darah, Bisa Jadi Penopang Hidup Pasien Hemofilia

Mei Sada 07/10/2026 17:16 WIB

Plasma dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan Produk Obat Derivat Plasma (PODP) yang digunakan dalam penanganan berbagai kondisi medis.

Kemenkes RI: Plasma Bukan Sekadar Komponen Darah, Bisa Jadi Penopang Hidup Pasien Hemofilia. (Foto: MNC Media)

IDXChannel—Selama ini, pembahasan soal darah mungkin lebih sering dikaitkan dengan sel darah merah yang membuatnya berwarna merah atau kebutuhan transfusi. Padahal, ada bagian lain yang tak kalah penting, yakni plasma.

Plasma dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan Produk Obat Derivat Plasma (PODP) yang digunakan dalam penanganan berbagai kondisi medis. Mulai dari hemofilia, imunodefisiensi primer, hingga beberapa penyakit langka dan kronis.

Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Dr. Dra. Lucia Rizka Andalusia, Apt., M.Pharm., MARS, mengatakan, keberadaan PODP memiliki peran penting bagi pasien yang membutuhkan terapi berbasis plasma.

“Ketika kita berbicara tentang plasma, sesungguhnya kita tidak hanya berbicara mengenai salah satu komponen darah. Tapi kita berbicara mengenai harapan dan kelangsungan hidup pasien yang membutuhkan terapi berbasis plasma sebagai bagian penting dari perawatan medis mereka,” ujarnya saat menyampaikan sambutan dalam International Plasma Awareness Week (IPAW) 2026 bersama Takeda, Rabu (7/10/2026).

Menurut dr Lucia, bagi sebagian pasien, terapi berbasis plasma bukan sekadar pengobatan yang diberikan sesekali. Melainkan terapi itu adalah perawatan jangka panjang sehingga ketersediaannya perlu dijaga.

“Kepastian pasokan PODP inilah yang memungkinkan pasien untuk mempertahankan kualitas hidup mereka dan tetap berkontribusi secara produktif di tengah masyarakat,” katanya.

Karena itu, ketersediaan PODP yang aman, bermutu, terstandar, dan terjangkau dinilai menjadi salah satu bagian penting dalam memperkuat sistem kesehatan nasional. 

Selain itu, Kebutuhan terhadap terapi berbasis plasma juga membuat Indonesia perlu memikirkan bagaimana ketersediaan plasma dapat dijaga dalam jangka panjang.

Ia mengatakan pengembangan ekosistem plasma nasional menjadi salah satu bagian dari upaya membangun ketahanan kesehatan atau health resilience di Indonesia. Namun, menurutnya, membangun ekosistem plasma yang mandiri dan berkelanjutan tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja.

“Indonesia perlu membangun ekosistem yang mampu mendukung ketersediaan plasma secara berkelanjutan dengan tetap menjunjung tinggi aspek keselamatan donor, mutu, keamanan produk, serta kepentingan pasien,” ujarnya.

Ia menekankan perlunya kolaborasi antara berbagai pihak, mulai dari pemerintah, institusi kesehatan, unit pengelola darah, industri, komunitas pasien, hingga para donor. Menurut dr Lucia, masyarakat juga memiliki peran dalam membangun ekosistem plasma. 

Karena itu, edukasi mengenai plasma dinilai penting agar publik memahami manfaat serta kebutuhan akan ketersediaannya. Ia berharap momentum International Plasma Awareness Week dapat menjadi ruang untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat mengenai plasma maupun PODP.

“Kesadaran publik yang kuat akan menjadi dasar dan menjadi pendorong utama dalam mendukung pengembangan ekosistem plasma dalam waktu yang panjang,” pungkasnya.

Dengan begitu, perjalanan plasma dari donor hingga dapat dimanfaatkan dalam terapi pasien tidak hanya menjadi urusan satu institusi. Ada rangkaian peran yang saling berkaitan untuk memastikan terapi berbasis plasma tetap tersedia bagi mereka yang membutuhkan.

(Nadya Kurnia)

SHARE