5 Saham Tambang Nikel di Bursa Efek Indonesia yang Dapat Dicermati Investor
Sejumlah perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan nikel telah melepas sahamnya kepada publik.
IDXChannel—Simak 5 saham nikel yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Negara ini adalah produsen nikel terbesar di dunia, sejumlah perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan nikel telah melepas sahamnya kepada publik.
Dari semua emiten pertambangan nikel yang tercatat di bursa, sebagian di antaranya memiliki kegiatan usaha utama di bidang pertambangan nikel murni (hanya menghasilkan nikel), sebagian lagi menjadikan nikel sebagai salah satu hasil produksi.
Berikut ini adalah saham nikel di Bursa Efek Indonesia yang dapat dicermati investor dan trader.
5 Saham Nikel di Bursa Efek Indonesia
1. PT Vale Indonesia Tbk (INCO)
Vale Indonesia adalah perusahaan tambang dan pengolahan nikel terintegrasi yang beroperasi di Sulawesi. Wilayah operasional utamanya adalah Blok Sorowako, Sulawesi Selatan. INCO memiliki total konsesi seluas 118.017 hektare.
Perusahaan ini mengantongi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) yang berlaku hingga Desember 2035. INCO sendiri sudah beroperasi sejak 1968, tetapi kegiatan eksplorasinya telah dimulai sejak 1928.
Saat itu perseroan masih beroperasi dengan nama PT Inco. Kini mayoritas saham INCO dikuasai oleh holding BUMN mineral, PT Mineral Industri Indonesia (MIND ID), bersama dengan Vale Canada dan Sumitomo Metal Mining.
2. PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL)
Trimegah Bangun Persada adalah perusahaan pertambangan nikel yang memiliki konsesi di Pulau Obi, Halmahera Selatan. NCKL menghasilkan feronikel, nikel sulfat, bijih nikel saprolit, bijih nikel limonit, kobalt sufalt, dan sebagainya.
Perusahaan ini menjalankan empat kegiatan usaha utama. Yakni pertambangan, pemurnian atau smelter, refinery, dan aktivitas lainnya. NCKL adalah bagian dari konglomerasi Harita Group milik Lim Gunawan Hariyanto.
3. PT Merdeka Battery Minerals Tbk (MBMA)
Merdeka Battery Minerals adalah perusahaan pertambangan nikel dan produsen baterai kendaraan listrik. Perusahaan milik Edwin Soeryadjaja ini memiliki konsesi lahan di Konawe, Sulawesi Selatan, seluas 21.000 hektare.
MBMA juga mengoperasikan fasilitas pemurnian atau smelter dan fasilitas konversi nikel matte di Kawasan Industri Morowali, dan fasilitas lainnya. Bisnis yang dijalankan MBMA bersifat terintegrasi dan terpadu.
4. PT Central Omega Resources Tbk (DKFT)
Perusahaan ini menjalankan bisnis pertambangan dan perdagangan nikel. DKFT mengelola konsesi pertambangan di Morowali, Sulawesi Tengah, dan Konawe Utara, Sulawesi Tenggara. Juga mengoperasikan smelter berkapasitas 300.000 ton per tahun.
Hingga akhir 2024, perusahaan ini berhasil memproduksi 2,95 juta ton bijih nikel dan menjual 2,60 juta ton nikel. Saat ini saham Central Omega Resources dikendalikan oleh Kiki Hamidjaja dan PT Jinsheng Mining.
5. PT PAM Mineral Tbk (NICL)
PAM Mineral adalah perusahaan pertambangan nikel bagian dari kelompok usaha milik Christopher Tjia. NICL mengelola konsesi pertambangan seluas 198 hektare di Morowali, Sulawesi Tengah, dan 576 hektare di Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.
Kegiatan usaha utama NICL adalah pertambangan dan penggalian. Termasuk pembersihan, pemurnian, pemisahan, dan pengolahan. Perusahaan ini memulai kegiatan pertambangannya pada 2018.
Itulah 5 saham tambang nikel di Bursa Efek Indonesia yang dapat dicermati investor.
(Nadya Kurnia)
Disclaimer: Artikel ini bukanlah ajakan atau anjuran untuk jual/beli saham tertentu, keputusan beli dan jual sepenuhnya berada di tangan investor.