Akselerasi Laba Emiten di Q1-2026, Intip Sektor Paling Moncer
Kinerja perusahaan-perusahaan besar di Indonesia mulai menunjukkan perbaikan pada awal 2026.
IDXChannel – Kinerja perusahaan-perusahaan besar di Indonesia mulai menunjukkan perbaikan pada awal 2026. Tak sekadar angka, tren ini mencerminkan mulai pulihnya aktivitas bisnis di sejumlah sektor utama.
Analis CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI) Hadi Soegiarto menilai, dalam riset yang terbit pada 4 Mei 2026, percepatan pertumbuhan laba bersih inti (core net profit) menjadi sinyal penting bahwa fundamental pasar mulai menguat.
Hadi menyebut, pertumbuhan laba bersih inti 200 emiten terbesar di Indonesia meningkat dari 5 persen secara tahunan (yoy) pada kuartal IV-2025 (Q4-2025) menjadi 13 persen pada kuartal I-2026 (Q1-2026).
Kinerja ini secara umum sejalan dengan konsensus Bloomberg, bahkan tetap mencerminkan percepatan di tengah penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sekitar 20 persen sejak awal tahun.
Menurut dia, akselerasi tersebut terutama ditopang sektor minyak dan gas, agrikultur, pertambangan, serta ritel consumer discretionary.
Sektor minyak dan gas mencatat lonjakan paling tajam, dari kontraksi 28 persen menjadi tumbuh 95 persen. Sementara itu, sektor agrikultur berbalik dari minus 14 persen menjadi tumbuh 18 persen, dan pertambangan naik dari 1 persen menjadi 21 persen.
Di sektor tambang, emiten mineral seperti PT ANTAM (Persero) (ANTM) dan PT Timah Tbk (TINS) menjadi kontributor utama percepatan.
Sektor ritel consumer discretionary tetap mencatat pertumbuhan solid, dari 29 persen menjadi 32 persen, didorong pemulihan belanja gaya hidup masyarakat menengah-atas setelah sempat tertekan akibat gejolak sosial atau aksi demo pada kuartal III-2025.
Selain itu, sektor rokok dan unggas juga mencatat pertumbuhan tinggi masing-masing 79 persen dan 67 persen, melanjutkan tren positif seiring dukungan kebijakan pemerintah.
Di sisi lain, sektor perbankan masih menunjukkan kinerja solid dengan pertumbuhan laba 10 persen pada kuartal I-2026, meski sedikit melandai dari kuartal sebelumnya.
Namun, beberapa sektor mulai menunjukkan perlambatan, seperti consumer staples, properti, dan kesehatan.
Hadi menjelaskan, perlambatan pada consumer staples terjadi seiring meredanya dampak bantuan tunai pada akhir 2025.
Sementara itu, sektor properti tertekan kekhawatiran makro yang menahan pembelian aset bernilai besar.
Perlu dicatat, dalam analisis tersebut CGSI mengecualikan pos-pos non-berulang, seperti keuntungan satu kali pada PT Darma Henwa Tbk (DEWA) dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) di kuartal IV-2025, serta beban non-berulang PT United Tractors Tbk (UNTR) pada kuartal I-2026.
“Jika tidak mengecualikan item non-berulang, pertumbuhan laba kuartal I-2026 sebenarnya terlihat melambat dibanding kuartal IV-2025,” kata dia.
Dari sisi pasar, CGSI melihat tekanan terhadap IHSG masih berasal dari harga minyak yang tinggi, pelemahan musiman rupiah pada kuartal II, serta potensi arus keluar dana pasif (passive outflows) pada akhir Mei dan pekan ketiga Juni.
Meski begitu, Hadi menilai sebagian besar sentimen negatif tersebut sudah tercermin dalam penurunan IHSG sekitar 20 persen sejak awal tahun.
“Puncak pesimisme investor kemungkinan terjadi pada Mei atau Juni, yang berpotensi menjadi titik masuk yang menarik,” tulis Hadi.
Menurut dia, valuasi banyak saham saat ini juga telah mendekati level terendah dalam satu dekade, membuka peluang akumulasi secara selektif.
CGSI mempertahankan sejumlah saham unggulan, antara lain PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), PT Triputra Agro Persada (TAPG).
Kemudian, PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL), PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY), PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), PT Gudang Garam Tbk (GGRM), dan PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM).
Sementara itu, PT Mayora Indah Tbk (MYOR) dikeluarkan dari daftar pilihan seiring kinerja penjualan yang dinilai masih lemah dan berpotensi melambat ke depan.
“Meskipun pilihan kami menekankan saham-saham berbasis komoditas, kami tetap memantau peluang masuk untuk saham-saham non-komoditas,” demikian kata Hadi. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.