Aksi Jual Berlebihan, BBCA hingga Sederet Blue Chip Dinilai Salah Harga
Aksi risk-off di pasar saham Indonesia dinilai telah memicu sentimen berlebihan yang membuat harga sejumlah saham unggulan tertekan terlalu dalam.
IDXChannel – Aksi risk-off di pasar saham Indonesia dinilai telah memicu sentimen berlebihan yang membuat harga sejumlah saham unggulan tertekan terlalu dalam dari nilai wajarnya.
Dalam riset yang terbit pada 23 Februari 2026, Sucor Sekuritas menilai menyebut terjadi distorsi valuasi akibat sentimen ekstrem, menyusul peringatan dari MSCI terkait potensi penurunan peringkat Indonesia karena isu investability.
Sentimen negatif juga diperparah laporan mengenai potensi pengambilalihan tambang emas Martabe oleh pemerintah terkait dugaan kerusakan lingkungan.
Akibatnya, saham-saham berfundamental kuat ikut terseret. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi salah satu yang paling terpukul. Di level Rp7.200, harga saham BBCA telah turun 10 persen sejak awal tahun dan merosot 25 persen secara tahunan.
Menurut Sucor, pasar saat ini seolah-olah mengasumsikan terjadi erosi nilai intrinsik BBCA hingga seperempatnya. Rasio implied-to-explicit return on equity (ROE) terkompresi menjadi sekitar 1,4 kali, mencerminkan ekspektasi yang jauh lebih pesimistis dibandingkan kondisi fundamental perseroan.
Padahal, kinerja terbaru menunjukkan daya tahan yang solid. Sepanjang 2025, BBCA masih membukukan pertumbuhan laba per saham (EPS) sekitar 5 persen dengan ROE tetap tinggi di kisaran 21 persen.
Hal ini menegaskan bahwa tekanan harga lebih mencerminkan reaksi pasar yang berlebihan ketimbang pelemahan struktural kinerja.
Dalam dua tahun terakhir, kredit BBCA tumbuh rata-rata 12 persen, sementara total aset naik sekitar 6 persen secara CAGR. Net interest margin (NIM) tetap stabil di kisaran 6 persen, dengan ROA di atas 4 persen dan ROE melampaui 21 persen.
Sucor menilai BBCA bahkan memiliki ruang untuk meningkatkan ROE secara struktural. Dengan posisi permodalan yang konservatif dan modal berlebih, normalisasi leverage secara prudent serta realokasi aset ke kredit berimbal hasil lebih tinggi dapat menjadi katalis pertumbuhan laba ke depan.
Tekanan akibat peringatan MSCI juga membayangi saham-saham unggulan lain dalam daftar top conviction buy Sucor, seperti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BRIS), PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI), PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL), serta PT Mayora Indah Tbk (MYOR).
Menurut Sucor Sekuritas, pelemahan harga saat ini membuka ruang bagi investor untuk mengoleksi saham berkualitas pada valuasi yang kian terdiskon.
Emiten-emiten tersebut mayoritas bergerak di sektor berbasis domestik yang relatif tangguh menghadapi tekanan makro global dan berpotensi menikmati dorongan dari peningkatan belanja serta dukungan fiskal domestik. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.