Aksi Jual Obligasi Global Semakin Dalam di Tengah Kekhawatiran Inflasi
Aksi jual obligasi global semakin dalam awal pekan ini di tengah kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga energi.
IDXChannel - Aksi jual obligasi global semakin dalam awal pekan ini di tengah kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga energi.
Dilansir dari Reuters pada Senin (18/5/2026), para investor bertaruh gejolak harga energi yang dipicu perang di Timur Tengah akan mengerek inflasi.
Imbal hasil obligasi Treasury Amerika Serikat (AS) 10 tahun acuan melonjak ke level tertinggi sejak Februari 2025 di 4,631 persen, setelah naik lebih dari 20 basis poin minggu lalu.
Imbal hasil Treasury AS 2 tahun menyentuh level tertinggi dalam 14 bulan terakhir di 4,102 persen. Sementara itu, imbal hasil Treasury AS 30 tahun naik ke level tertinggi dalam setahun ke belakang di 5,159 persen.
Di Asia, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) 30 tahun melonjak ke level tertinggi sepanjang masa di 4,200 persen, sementara imbal hasil JGB 10 tahun menyentuh level tertinggi sejak Oktober 1996 di 2,800 persen.
Lebih dari dua bulan setelah perang antara AS-Israel dengan Iran di Timur Tengah, investor mulai khawatir tentang dampak ekonomi dari konflik tersebut. Tekanan inflasi meningkat dan prospek kenaikan suku bunga acuan semakin terbuka lebar.
Aksi jual besar-besaran pada Senin semakin diperparah oleh berita bahwa pemerintah Jepang kemungkinan akan menerbitkan utang baru. Tokyo membutuhkan dana untuk meredam dampak ekonomi dari perang di Timur Tengah.
Aksi jual besar-besaran dimulai pekan lalu. Investor dikejutkan oleh serangkaian angka inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan secara global, khususnya di AS.
Data terbaru menunjukkan harga konsumen dan produsen AS melonjak pada April. Kondisi serupa juga terlihat di China, Jerman, dan Jepang.
Meskipun menyepakati gencatan senjata bulan lalu, negosiasi antara AS dan Iran hingga kini buntu, mengecilkan peluang berakhirnya konflik dalam waktu dekat.
Trump kembali mengancam Iran baru-baru ini. Dia menyebut Negeri Mullah tersebut tidak akan tersisa jika gencatan senjata berakhir dan perang terbuka kembali pecah. (Wahyu Dwi Anggoro)