BREN Kantongi Laba Bersih Rp2,8 Triliun Sepanjang 2025, Ditopang Proyek Binary Salak
BREN mengantongi laba bersih USD165 juta atau setara Rp2,8 triliun, naik 6,5 persen dari periode sebelumnya USD155 juta.
IDXChannel - PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mengantongi laba bersih USD165 juta atau setara Rp2,8 triliun (kurs Rp17.000 per USD) sepanjang 2025, naik 6,5 persen dari periode sebelumnya yang sebesar USD155 juta.
CEO Barito Renewable Hendra Soetjipto Tan mengatakan, kinerja perseroan didukung oleh operasi panas bumi yang stabil serta pengelolaan biaya yang disiplin, meski segmen pembangkit angin menghadapi kondisi yang lebih menantang dibandingkan tahun sebelumnya.
"Kinerja yang solid pada 2025, didukung oleh kontribusi yang kuat dan konsisten dari portofolio panas bumi. Sepanjang tahun ini, perseroan berhasil menyelesaikan proyek retrofit Salak dan kontribusi dari Unit Binary Salak, yang semakin memperkuat kapasitas panas bumi," katanya dalam keterbukaan informasi, Jumat (20/3/2026).
Sejalan dengan itu, pendapatan konsolidasian BREN naik tipis 1,4 persen menjadi USD605 juta dari sebelumnya USD597 juta ditopang oleh produksi listrik panas bumi yang stabil dan kontribusi dari Unit Binary Salak.
Proyek retrofit Salak diselesaikan pada kuartal III-2025 sehingga menambah kapasitas baru sebesar 7,7 MW, melampaui ekspektasi awal.
Bersama dengan Unit Binary Salak, total kapasitas terpasang bruto pembangkit listrik panas bumi yang dioperasikan perseroan mencapai 910 MW pada akhir 2025, meningkat 2,7 persen yoy dibandingkan tahun sebelumnya.
Perseroan juga berhasil menyelesaikan dua sumur eksplorasi di prospek Hamiding pada Desember 2025, yang mengonfirmasi potensi sumber daya sekitar 55-60 MW.
Selain itu, proyek retrofit Wayang Windu telah diselesaikan pada kuartal pertama 2026, yang semakin meningkatkan kinerja keseluruhan pembangkit listrik.
Adapun EBITDA perseroan tercatat sebesar USD518 juta, dengan margin sebesar 85,6 persen. Per 31 Desember 2025, total aset tercatat sebesar USD3,87 miliar.
Sementara total liabilitas turun menjadi USD2,98 miliar, sehingga rasio utang terhadap ekuitas (debt-to-equity ratio) perseroan membaik menjadi 2,36x pada akhir 2025.
(DESI ANGRIANI)