Bursa Asia Beragam, Investor Cermati Konflik Timur Tengah dan Harga Minyak
Bursa saham Asia beragam pada perdagangan Rabu (9/9/2026), seiring investor mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah.
IDXChannel – Bursa saham Asia beragam pada perdagangan Rabu (9/9/2026), seiring investor mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah, pergerakan harga minyak mentah, serta prospek suku bunga global.
Di Jepang, pasar saham bergerak menguat pada awal perdagangan setelah investor melakukan aksi bargain hunting di tengah ketidakpastian akibat konflik Timur Tengah. Saham-saham terkait semikonduktor memimpin penguatan.
Mengutip Dow Jones Newswires, saham SoftBank Group naik 3,0 persen, sementara Lasertec melonjak 6,6 persen dan Kokusai Electric menguat 5,8 persen. Indeks Nikkei Stock Average tercatat naik 0,25 persen.
Di pasar valuta asing, dolar Amerika Serikat berada di level 153,34 yen, menguat dibandingkan posisi 153,74 yen pada penutupan perdagangan Tokyo Selasa (8/9).
Investor masih mencermati perkembangan perang Iran serta pergerakan harga minyak mentah setelah Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan baru terhadap kapal tanker minyak Iran pada Selasa.
Sentimen positif juga datang dari data sektor swasta yang menunjukkan kepercayaan produsen Jepang membaik untuk bulan kedua berturut-turut pada September.
Perbaikan tersebut didukung oleh permintaan yang solid terhadap semikonduktor dan pusat data.
Namun, kenaikan harga minyak masih menjadi perhatian karena berpotensi memperkuat tekanan inflasi dan meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga.
Pergerakan yen juga menjadi perhatian pelaku pasar setelah mata uang Jepang tersebut menguat ke level terkuat dalam hampir tujuh bulan.
Sementara itu, bursa Asia lainnya bergerak bervariasi. Indeks Kospi Korea Selatan naik 1,13 persen, Shanghai Composite China menguat 0,13 persen, dan CSI 300 China naik 0,14 persen.
Sebaliknya, Hang Seng Hong Kong turun 0,42 persen. Indeks ASX 200 Australia melemah 0,20 persen, sedangkan Straits Times Index (STI) Singapura turun 0,80 persen.
Pergerakan bursa Asia tersebut mengikuti kinerja Wall Street yang berakhir di zona merah pada perdagangan Selasa (8/9/2026).
Investor melepas saham Salesforce dan sejumlah perusahaan perangkat lunak lainnya, sementara eskalasi konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak lebih tinggi.
Pelaku pasar juga menanti rilis data inflasi yang dapat memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga.
Indeks S&P 500 turun 0,58 persen ke 7.673,52. Nasdaq terkoreksi 0,32 persen menjadi 26.421,41, sedangkan Dow Jones Industrial Average merosot 1,18 persen ke 52.786,07. (Aldo Fernando)