MARKET NEWS

Deretan Sentimen Ini Diprediksi Kurangi Tekanan pada Nilai Tukar Rupiah di Akhir 2026

Rohman Wibowo 21/08/2026 03:03 WIB

Tekanan terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) diproyeksikan akan mereda menjelang akhir 2026.

Deretan Sentimen Ini Diprediksi Kurangi Tekanan pada Nilai Tukar Rupiah di Akhir 2026. (Foto iNews Media Group)

IDXChannel - Tekanan terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) diproyeksikan akan mereda menjelang akhir 2026. Prospek stabilitas mata uang garuda ini ditopang oleh kombinasi sentimen perbaikan di pasar global serta penyesuaian neraca eksternal dari dalam negeri.

Chief Economist Citi Indonesia Helmi Arman memaparkan, perbaikan sentimen eksternal menjadi pendorong utama yang dapat meringankan beban rupiah di pasar keuangan. Salah satu katalis global yang paling signifikan berasal dari tren penurunan harga komoditas energi dunia seiring potensi deeskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah menjelang pemilu sela di AS.

"Untuk faktor-faktor globalnya, kami melihat tren harga minyak dunia terhadap kuartal II sedang bergerak turun seiring ekspektasi deeskalasi ketegangan di Timur Tengah. Bila arus perdagangan di Selat Hormuz kembali lancar, pasar minyak dunia diperkirakan mengalami surplus pasokan sekitar 4 juta barel per hari pada 2027 dengan pasokan yang melampaui permintaan," ujar Helmi dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (20/8/2026).

Selain harga minyak, faktor eksternal kedua berkaitan dengan imbal hasil (yield) US Treasury, khususnya tenor pendek, yang diproyeksikan bergerak melandai hingga akhir tahun. Meski sempat terdongkrak premi risiko dalam 1–2 bulan terakhir akibat kekhawatiran kenaikan suku bunga acuan, Citi meyakini Federal Reserve (The Fed) tidak akan menaikkan bunga dan justru berpeluang memangkasnya sebelum akhir tahun.

Pandangan tersebut didasarkan pada laju inflasi inti AS yang bergerak melambat dari level 2,5 persen menuju kisaran 2,2 hingga 2,3 persen akibat melemahnya permintaan konsumen. Walaupun pertumbuhan ekonomi AS secara menyeluruh relatif kuat, ekspansi tersebut lebih banyak ditopang oleh ledakan investasi kecerdasan buatan, sementara sektor konsumsi masyarakat cenderung melandai.

Pelemahan indeks dolar AS (DXY) di pasar internasional dinilai turut memperkuat peluang bertahannya penguatan kurs rupiah terhadap mata uang Negeri Paman Sam. Tren koreksi dolar AS tersebut dipicu oleh divergensi kebijakan suku bunga antarnegara maju serta ketahanan surplus neraca dagang mitra strategis dunia.

"Faktor global lain yang mendukung meredanya tekanan terhadap rupiah adalah perkiraan pelemahan indeks dolar terhadap euro dan yuan China. Ini disebabkan Bank Sentral Eropa (ECB) yang diperkirakan menaikkan suku bunga pada September saat The Fed berpeluang menurunkan bunga, serta kuatnya surplus transaksi berjalan China yang melebihi 3 persen PDB," ujar Helmi.

Dari sisi domestik, depresiasi nilai tukar rupiah yang berlangsung sejak akhir tahun lalu secara tidak langsung memberikan efek penyeimbang bagi neraca pembayaran. Pelemahan kurs tersebut membuat nilai dividen investasi asing yang direpatriasikan ke luar negeri menjadi lebih kecil saat dikonversikan ke dalam denominasi dolar AS.

Dampak depresiasi kurs terhadap pengurangan nominal arus modal keluar dinilai efektif menekan defisit transaksi berjalan nasional. Helmi menggarisbawahi soal berkurangnya repatriasi dividen korporasi asing akan menjadi faktor penting bagi perbaikan indikator eksternal Indonesia.

"Rupiah yang melemah berarti dividen investasi asing yang direpatriasikan ke luar negeri dalam satuan dolar jadinya lebih kecil dan tidak sebanyak sebelumnya. Jadi ini menjadi salah satu faktor internal yang akan mengurangi defisit neraca transaksi berjalan Indonesia di kuartal III," kata Helmi.

(Dhera Arizona)

SHARE