Dolar AS Menguat Dekati Level Tertinggi Dua Pekan Seiring Lonjakan Harga Minyak
Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap sekeranjang mata uang utama, terakhir berada di level 99,55.
IDXChannel - Dolar AS menguat dan diperdagangkan mendekati level tertinggi dalam dua pekan pada Selasa (15/9/2026), setelah lonjakan harga minyak mendorong imbal hasil Treasury AS dan memperkuat ekspektasi Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga pekan ini.
Melansir Reuters, Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap sekeranjang mata uang utama, terakhir berada di level 99,55. Euro sedikit melemah terhadap dolar menjadi USD1,1538, sementara pound sterling juga turun menjadi USD1,3494.
Yen juga menjauh dari level tertinggi dalam tujuh bulan, terakhir melemah sekitar 0,2 persen menjadi 154,72 per dolar, menjelang perkiraan kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ) pada Jumat.
Dolar juga mendapat dukungan dari melemahnya selera risiko setelah pasar saham anjlok. Saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI) berada di bawah tekanan setelah para pemimpin industri menyerukan perlambatan pengembangan AI untuk membatasi potensi ancaman terhadap manusia.
Pasar kini hampir sepenuhnya memperkirakan The Fed menaikkan suku bunga pada Rabu. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga mencapai sekitar 93 persen. Kenaikan tersebut akan menjadi yang pertama dalam lebih dari tiga tahun.
“Perpaduan antara harga minyak yang lebih tinggi, kenaikan imbal hasil AS, dan melemahnya selera risiko membantu mengangkat dolar AS secara luas,” kata analis valuta asing di OCBC, Christopher Wong, dalam sebuah catatan.
Dia menambahkan, dukungan terhadap dolar kemungkinan masih bertahan dalam jangka pendek. Namun, karena kenaikan suku bunga kini sudah sangat diperhitungkan oleh pasar, penguatan dolar lebih lanjut kemungkinan membutuhkan sinyal dari The Fed bahwa mereka masih membuka peluang untuk kembali memperketat kebijakan moneter.
Harga minyak naik hingga USD107 per barel dan bertahan di dekat level tertinggi dalam empat bulan setelah kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran di Yaman menyerang Arab Saudi, sementara pembicaraan antara negara-negara Teluk dan Iran ditunda.
Kondisi tersebut menambah kekhawatiran terhadap inflasi dan mendorong imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun menembus level psikologis penting 5 persen pada sesi sebelumnya, untuk pertama kalinya sejak Oktober 2023. Imbal hasil tersebut terakhir berada di 4,9895 persen.
(NIA DEVIYANA)