Gen Z Dominasi Pasar Modal, 80 Persen Investor Baru Berusia di Bawah 30 Tahun
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pertumbuhan jumlah investor di pasar modal saat ini didominasi Gen Z dengan rentan usia di bawah 30 tahun.
IDXChannel - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pertumbuhan jumlah investor di pasar modal saat ini didominasi Gen Z dengan rentan usia di bawah 30 tahun.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengungkapkan meski secara nilai aset yang dikelola mungkin belum sebesar investor dengan usia yang lebih tua, kehadiran anak muda memberikan optimisme jangka panjang bagi stabilitas ekonomi nasional.
Sebab menurutnya, kelompok usia di bawah 30 tahun memiliki jangka waktu investasi yang sangat panjang.
"Mayoritas di antara investor kita adalah dari segmen demografi kalangan usia muda. Usia investor di bawah 30 tahun itu sudah mencapai hampir 80 persen dari keseluruhan investor kita," ujar Hasan dalam acara MNC Forum di Jakarta, Kamis (21/5/2026).
Hingga April 2026, OJK mencatat total investor di pasar modal telah menembus angka 26,49 juta investor atau tumbuh 30,06 persen secara year to date (ytd).
Besarnya minat Gen Z untuk berinvestasi diakui Hasan sebagai amanah besar bagi OJK untuk menjaga integritas pasar. Menurutnya, kepercayaan investor muda ini tidak boleh dikhianati oleh praktik pasar yang tidak transparan.
"Ini tentu amanah bagi kami untuk memelihara kepercayaan mereka dengan menghadirkan pasar modal yang trusted. Caranya adalah melalui transparansi, integritas tinggi, dan kredibilitas yang tidak boleh ditawar-tawar," kata dia.
Hasan juga memberikan pesan khusus kepada para investor muda agar tidak terjebak dalam perilaku spekulatif jangka pendek. Dia mencermati bahwa di era digital, sentimen bisa terbentuk dalam hitungan menit, yang seringkali memicu reaksi berlebihan dari investor ritel.
"Tentu menjadi amanah tanggung jawab kita untuk memelihara kepercayaan mereka dengan menghadirkan aspek-aspek tadi, pasar modal yang diawali dengan upaya mendorong transparansi, integritas tinggi, dan kredibilitas yang tidak boleh ditawar-tawar," ujar dia.
Sebagai solusi, OJK terus mendorong program-program literasi dan diversifikasi produk, salah satunya melalui Systematic Investment Plan (SIP) atau program nabung reksa dana secara terencana. Program ini diharapkan dapat membantu investor pemula untuk berinvestasi sesuai dengan profil risiko masing-masing.
"Harapan kami, pasar modal kita tidak hanya tumbuh secara kuantitas, tetapi juga menjadi ekosistem yang kredibel dan terpercaya bagi generasi masa depan Indonesia," ujar Hasan.
(NIA DEVIYANA)