Genjot Pertumbuhan Ekonomi, China Umumkan Stimulus Jumbo
Program bantuan ini diyakini sebagai yang terbesar sejak krisis keuangan global 2007-2008.
IDXChannel - Pemerintah China akan meningkatkan penerbitan surat utang untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi.
Melansir DW News, pemerintah China telah mengumumkan peningkatan yang cukup besar dalam penerbitan surat utang untuk mendukung pemerintah daerah, warga berpenghasilan rendah, pasar properti, dan modal bank-bank negara.
Menteri Keuangan China, Lan Foan mengatakan, China akan menerbitkan 2,3 triliun yuan sekitar USD325,5 miliar dalam bentuk obligasi khusus untuk tiga bulan ke depan untuk mendorong perekonomian. Program bantuan ini diyakini sebagai yang terbesar sejak krisis keuangan global 2007-2008.
“Dalam tiga bulan ke depan, total 2,3 triliun yuan dana obligasi khusus dapat diatur untuk digunakan di berbagai tempat,” kata Lan Foan dikutip dari DW News, Sabtu (12/10/2024).
Dia menambahkan, pagu utang akan diturunkan untuk pemerintah daerah, membebaskan dana yang diberikan untuk dibelanjakan pada infrastruktur dan perlindungan pekerjaan.
“Saat ini, kami sedang mempercepat penggunaan obligasi negara tambahan, dan obligasi negara khusus jangka panjang juga sedang diterbitkan untuk digunakan,” kata Lan Foan.
Stimulus fiskal China telah menjadi subjek spekulasi yang intens di pasar keuangan setelah pertemuan pimpinan tertinggi Partai Komunis, Politbiro, pada bulan September lalu. Pertemuan tersebut mengisyaratkan meningkatnya rasa urgensi mengenai dampak ekonomi yang meningkat.
Diketahui, negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia ini sedang menghadapi tekanan deflasi yang kuat karena penurunan tajam di pasar properti dan lemahnya kepercayaan konsumen.
Hal ini telah mengekspos ketergantungan ekonomi yang berlebihan pada ekspor, di saat hubungan perdagangan globalnya menjadi semakin tegang.
Berbagai data ekonomi telah meleset dari perkiraan dalam beberapa bulan terakhir. Hal ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan ekonom dan investor bahwa target pemerintah untuk mencapai pertumbuhan sekitar 5 persen tahun ini berada dalam bahaya dan bahwa perlambatan struktural jangka panjang mungkin akan terjadi.
Stimulus yang telah lama ditunggu-tunggu ini muncul di atas serangkaian langkah-langkah yang diumumkan dalam beberapa minggu terakhir, termasuk penurunan suku bunga dan likuiditas untuk bank-bank.
(Nur Ichsan Yuniarto)