Hadapi Turbulensi Usai Laporan MSCI, BEI: Momen Penting Perbaiki Pasar Modal Indonesia
BEI terus menyiapkan langkah pembenahan secara menyeluruh di pasar modal. Hal itu sebagai upaya perbaikan setelah publikasi MSCI.
IDXChannel – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) terus menyiapkan langkah pembenahan secara menyeluruh di pasar modal. Hal itu sebagai upaya perbaikan setelah publikasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang memicu bursa saham Indonesia dalam tekanan.
Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengungkap bahwa kondisi pasar saat ini seperti pesawat yang tengah menghadapi turbulensi.
"Maka kita hanya punya satu pilihan. Dalam kondisi turbulence, terbang lebih rendah bukan pilihan yang tepat. Tetapi dalam kondisi turbulence, pilihan kita hanya terbang lebih tinggi. Dan itu yang sedang kita lakukan,” kata Jeffrey dalam konferensi pers yang digelar pada Kamis (12/2/2026).
Menurut Jeffrey, situasi ini justru menjadi momentum penting untuk melakukan pembenahan signifikan terhadap struktur pasar modal nasional.
"Karena kita terbang lebih tinggi, ini adalah momen yang sangat tepat, momen yang sangat berharga untuk kita manfaatkan. Untuk melakukan pembenahan secara signifikan terhadap pasar kita. Dan itu yang sedang kami lakukan," kata dia.
BEI bersama pemangku kepentingan telah merumuskan beberapa langkah pembenahan. Salah satunya yaitu meningkatkan transparansi melalui kewajiban pengungkapan nama pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1 persen.
Selain itu, klasifikasi data investor akan diperluas secara signifikan, dari sebelumnya hanya 9 tipe menjadi 28 tipe investor, khususnya pada kategori korporasi dan entitas lainnya.
"Untuk memastikan ke depan pasar kita lebih dalam, kami akan mengeluarkan peraturan, dan kami juga sebuah minimum free float untuk bisa tetap bertahan di Bursa Efek Indonesia dari 7,5 persen menjadi 15 persen," lanjutnya.
Langkah lainnya yaitu penerbitan shareholder’s concentration list, yang memungkinkan publik mengetahui saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi sehingga dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi.
"Itu semua dapat kami lakukan karena pada momen ini kita mendapatkan dukungan luar biasa untuk bisa melakukan pembinaan dan perbaikan yang signifikan," kata Jeffrey.
(Febrina Ratna Iskana)