Harga Emas Dunia Menguat Dibayangi Konflik Iran
Harga emas dunia menguat pada Senin (2/3/2026), didorong kekhawatiran konflik berkepanjangan di Timur Tengah.
IDXChannel - Harga emas dunia menguat pada Senin (2/3/2026), didorong kekhawatiran konflik berkepanjangan di Timur Tengah setelah serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran.
Emas spot naik 0,83 persen ke USD5.322,60 per troy ons, setelah sempat memangkas sebagian kenaikan akibat aksi ambil untung usai logam mulia itu melonjak lebih dari 2 persen pada awal sesi.
Harga emas sebelumnya mencetak rekor USD5.594,82 per troy ons pada 29 Januari 2026.
Indeks dolar AS menguat 1 persen, membuat emas yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
“Pasar saat ini mencoba menilai apakah serangan-serangan ini akan berlanjut dalam beberapa pekan ke depan,” ujar Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures, David Meger, dikutip dari Reuters.
Merger menambahkan, “Ketidakpastian itulah yang kemungkinan besar menopang harga.”
Perang udara AS-Israel terhadap Iran meluas pada Senin dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Israel menyerang Lebanon sebagai respons atas serangan Hizbullah, sementara Teheran terus melancarkan serangan rudal dan drone ke negara-negara Teluk.
Presiden AS Donald Trump mengatakan gelombang besar serangan lanjutan segera terjadi, tanpa merinci lebih jauh.
Harga minyak dan gas melonjak setelah serangan memaksa penutupan fasilitas energi di berbagai wilayah Timur Tengah serta mengganggu pelayaran di Selat Hormuz yang krusial.
Analis SP Angel menyebut meningkatnya fragmentasi geopolitik mendorong bank sentral negara-negara BRIC mengurangi eksposur terhadap aset berdenominasi dolar dan beralih ke emas.
Mereka menilai tren ini akan berlanjut. Sementara itu, BNP Paribas memperkirakan permintaan investasi emas fisik menjadi pendorong utama tahun ini.
Emas, yang lama dipandang sebagai aset aman saat ketidakpastian, telah mencatat sejumlah rekor tertinggi dan melonjak hampir 23 persen sepanjang tahun ini.
Reli tersebut melanjutkan lonjakan 64 persen pada 2025, yang ditopang pembelian bank sentral secara agresif, arus masuk kuat ke exchange traded funds (ETF), serta pergeseran menuju kebijakan moneter AS yang lebih longgar.
Menurut tiga sumber industri logam, arus fisik emas ke dan dari pusat perdagangan emas Dubai diperkirakan sangat terhambat dalam beberapa hari mendatang seiring pembatalan penerbangan akibat serangan.
Dari sisi data, pasar akan mencermati laporan ketenagakerjaan ADP, klaim pengangguran mingguan, serta laporan non-farm payrolls pekan ini.
Di logam lainnya, perak spot turun 5,7 persen ke USD88,46 per ons setelah menyentuh level tertinggi sejak 30 Januari.
Platinum spot turun 2,7 persen ke USD2.300,50 per ons, sementara paladium melemah 0,9 persen ke USD1.770,66 per ons. (Aldo Fernando)