Harga Minyak Berpeluang Fluktuatif, Pasar Cermati AS-Iran
Harga minyak dunia ditutup menguat pada Jumat (6/2/2026) pekan lalu setelah hari pertama perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berakhir.
IDXChannel - Harga minyak dunia ditutup menguat pada Jumat (6/2/2026) pekan lalu setelah hari pertama perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berakhir dengan kesepakatan untuk melanjutkan pembahasan.
Namun, media pemerintah Iran melaporkan Teheran menolak menghentikan pengayaan bahan bakar nuklirnya.
Perundingan yang dimediasi diplomat Oman ini berlangsung setelah pengerahan kekuatan militer AS di kawasan dan telah mengurangi sebagian premi risiko dalam harga minyak.
“Dalam jangka pendek, pelaku pasar akan tetap sangat fokus pada pertemuan AS-Iran,” tulis analis BOK Financial Dennis Kissler dalam sebuah catatan, dikutip Dow Jones Newswires.
Harga minyak WTI naik 0,4 persen ke level USD63,55 per barel, meski secara mingguan masih turun 2,5 persen. Sementara itu, minyak Brent menguat 0,7 persen menjadi USD68,05 per barel, namun tetap mencatatkan penurunan 1,8 persen dalam sepekan.
“Investor mencermati perundingan AS-Iran, dan sentimen mereka sangat dipengaruhi oleh hasil pembicaraan tersebut,” ujar analis minyak PVM Tamas Varga, dikutip FXEmpire.
Masalahnya, belum ada kesepakatan soal agenda yang benar-benar dibahas.
Iran ingin fokus pada isu nuklir, sementara AS mendorong agar pembahasan juga mencakup rudal balistik serta dukungan Iran terhadap kelompok bersenjata di kawasan.
Isu ini krusial karena setiap eskalasi antara kedua negara berpotensi mengganggu arus minyak melalui Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Irak, dan Iran mengekspor sebagian besar minyak mentah mereka melalui titik sempit ini.
Jika perundingan berjalan lancar dan ketegangan mereda, harga minyak berpeluang turun lebih jauh. Capital Economics menilai kekhawatiran geopolitik pada akhirnya akan kalah oleh fundamental yang lemah.
Lembaga ini memperkirakan harga minyak bergerak turun mendekati USD50 per barel pada akhir 2026, seiring peningkatan produksi dari Kazakhstan.
Penurunan mingguan harga minyak tidak semata dipicu faktor geopolitik. Harga juga tertekan oleh aksi jual luas di pasar global serta ekspektasi berlanjutnya kondisi pasokan berlebih.
Arab Saudi baru-baru ini memangkas harga jual resmi minyak Arab Light ke Asia ke level terendah dalam lima tahun, menandai penurunan untuk bulan keempat berturut-turut.
“Latar belakang fundamentalnya sebenarnya tidak terlalu menggembirakan, karena mengindikasikan pasar yang kelebihan pasokan,” kata Varga.
FXEmpire menulis, secara teknikal, jika minyak WTI mampu bertahan di atas level USD64,50, harga berpeluang mengarah ke area resistance USD65,50-USD66,00.
Dari sisi teknikal, Brent perlu menetap di atas area resistance USD69,50-USD70,00 untuk membuka peluang penguatan lanjutan. (Aldo Fernando)