Harga Minyak Kembali ke Level Sebelum Perang Iran, OPEC+ Tambah Produksi
Harga minyak ditutup di sekitar level sebelum pecahnya perang Iran pada Senin (6/7), setelah Arab Saudi memangkas harga jual resmi (official selling price).
IDXChannel - Harga minyak ditutup di sekitar level sebelum pecahnya perang Iran pada Senin (6/7/2026), setelah Arab Saudi memangkas harga jual resmi (official selling price/OSP), OPEC+ menyetujui kenaikan target produksi mulai Agustus, dan ekspor melalui Selat Hormuz terus pulih.
Kontrak berjangka (futures) minyak mentah Brent, yang sempat menyentuh level tertinggi dalam empat tahun di atas USD126 per barel pada akhir April, ditutup melemah 0,2 persen menjadi USD71,99 per barel.
Sementara itu, futures West Texas Intermediate (WTI) AS turun 0,2 persen ke USD68,55 per barel. Tidak ada penyelesaian perdagangan WTI pada Jumat karena pasar AS libur nasional.
Sepanjang pekan lalu, kedua kontrak nyaris tidak berubah setelah sepanjang sebulan terakhir bergerak turun hingga kembali ke level yang terakhir terlihat pada akhir Februari, sebelum dimulainya perang selama empat bulan yang memicu gangguan pasokan energi terbesar dalam sejarah, menurut International Energy Agency (IEA).
"Penurunan harga masih dipengaruhi oleh kapal tanker yang sebelumnya sempat tertahan dan kini berhasil keluar dari kawasan Teluk, sehingga meningkatkan volume minyak yang berada di laut," kata Analis UBS Giovanni Staunovo, seperti dikutip Reuters.
Investor juga terus mencermati pembicaraan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mengenai masa depan pelayaran melalui Selat Hormuz, sembari memantau pemulihan ekspor minyak dari kawasan Teluk.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Senin, AS akan mencapai kesepakatan dengan Iran atau "menyelesaikan urusan tersebut", seraya kembali melontarkan ancaman aksi militer ketika Teheran menunjukkan sikap menantang setelah pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Perundingan tidak langsung antara AS dan Iran berakhir pekan lalu tanpa menunjukkan kemajuan menuju perdamaian yang berkelanjutan, meski sebelumnya kedua pihak menjalani gencatan senjata selama 60 hari yang dimaksudkan untuk membuka ruang bagi upaya diplomatik setelah serangan militer AS dan Israel.
Di sisi lain, Uni Emirat Arab (UEA) meningkatkan produksi minyak mentahnya hingga mendekati rekor tertinggi, yakni di atas 3,8 juta barel per hari pada Juni, setelah keluar dari OPEC guna terbebas dari pembatasan produksi, menurut dua sumber yang mengetahui data produksi.
Arab Saudi menetapkan harga jual resmi minyak mentah andalannya, Arab Light, untuk pasar Asia pada Agustus sebesar USD1,50 per barel di bawah rata-rata harga Oman/Dubai. Pemangkasan tersebut menjadi yang terbesar secara bulanan sejak Reuters mulai mencatat data pada 2003.
Sementara itu, Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) juga menjual minyak mentah melalui tender dengan harga diskon, menurut para pelaku perdagangan kepada Reuters. (Aldo Fernando)