Harga Minyak Melonjak, Kekhawatiran Fiskal Tekan IHSG
IHSG sempat jatuh 3,1 persen secara intraday ke level 6.917,3 pada perdagangan Senin (16/3/2026)
IDXChannel - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat jatuh 3,1 persen secara intraday ke level 6.917,3 pada perdagangan Senin (16/3/2026) seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal Indonesia di tengah lonjakan harga minyak dunia.
Penurunan ini merupakan posisi terendah IHSG sejak Juli 2025. Meski sempat pulih, indeks akhirnya ditutup melemah 1,6 persen di level 7.022,3.
Pelemahan indeks terjadi secara luas di pasar saham. Dari total sekitar 910 saham yang diperdagangkan, hanya 180 saham yang berhasil ditutup di zona hijau.
Sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi penekan utama indeks, di antaranya PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN).
Stockbit pada Senin (16/3/2026) mencatat tekanan terhadap IHSG muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap potensi pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Kekhawatiran ini dipicu oleh harga minyak dunia yang bertahan di atas USD100 per barel seiring meningkatnya tensi geopolitik di Iran.
Selain faktor eksternal, likuiditas pasar juga cenderung menurun menjelang periode Lebaran. Dalam sepekan terakhir hingga Jumat (13/3/2026), rata-rata nilai transaksi harian tercatat hanya sekitar Rp15,2 triliun, jauh di bawah rata-rata harian sepanjang tahun berjalan yang mencapai Rp25,5 triliun. Secara mingguan, IHSG juga telah melemah sekitar 4,3 persen.
Di tengah lonjakan harga minyak, Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa pemerintah hanya akan mempertimbangkan pelebaran defisit APBN di atas 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) dalam kondisi darurat.
Prabowo menilai pemerintah masih dapat menghindari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), namun situasi akan menjadi sangat sulit jika harga minyak bertahan di atas USD120 per barel dalam jangka waktu lama.
Sebelumnya, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut pemerintah telah menyiapkan tiga skenario untuk mengantisipasi fluktuasi harga minyak dan nilai tukar rupiah.
Dalam setiap skenario tersebut, pencapaian target defisit APBN dinilai akan sulit tanpa adanya penyesuaian belanja negara.
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan defisit APBN 2026 berpotensi melebar hingga 3,6 persen terhadap PDB apabila pemerintah tidak melakukan penyesuaian anggaran dan harga minyak bertahan di kisaran USD90-USD92 per barel.
Seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga mengalami tekanan.
Rupiah tercatat melemah sekitar 0,23 persen ke level Rp16.990 per USD. Pada saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik 12 basis poin ke level 6,914 persen, yang menjadi level tertinggi sejak Mei 2025.
Stockbit menilai, tekanan terhadap APBN berpotensi semakin besar apabila harga minyak bertahan tinggi dalam waktu yang lama. Selain itu, lonjakan harga energi juga dapat meningkatkan tekanan inflasi sehingga berpotensi mendorong Bank Indonesia mengikuti arah pengetatan suku bunga global.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak secara historis kerap diikuti oleh penguatan harga komoditas lain seperti batu bara dan minyak kelapa sawit (CPO), yang merupakan dua komoditas ekspor utama Indonesia.
Dalam skenario harga minyak yang tinggi secara berkepanjangan, Stockbit merekomendasikan saham sektor komoditas dapat menjadi pilihan bagi investor.
Beberapa emiten yang disorot antara lain PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) di sektor batu bara, serta PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) dan PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) di sektor perkebunan kelapa sawit.
(DESI ANGRIANI)