Harga Minyak Tembus USD100, Seberapa Tinggi Bisa Melaju Pekan Ini?
Harga minyak mentah memasuki pekan ini dengan modal reli lebih dari 8 persen setelah kekhawatiran gangguan pasokan di Timur Tengah.
IDXChannel – Harga minyak mentah memasuki pekan ini dengan modal reli lebih dari 8 persen setelah kekhawatiran gangguan pasokan di Timur Tengah mendorong Brent dan West Texas Intermediate (WTI) menembus USD100 per barel.
Meski terkoreksi pada menjelang akhir pekan lalu, prospek harga masih cenderung bullish selama ketegangan di kawasan dan risiko terhadap jalur pelayaran belum mereda.
Harga Brent berjangka ditutup turun 2,81 persen ke level USD104,61 per barel pada Jumat (11/9/2026). Sementara itu, WTI AS merosot 2,37 persen menjadi USD100,05 per barel.
Koreksi tersebut belum menghapus lonjakan sepanjang pekan. Brent tercatat menguat sekitar 8,7 persen, sedangkan WTI naik 9,4 persen. Keduanya bahkan sempat menyentuh level tertinggi sejak pertengahan Mei.
Tekanan jual pada Jumat muncul setelah Financial Times melaporkan para menteri luar negeri negara-negara Timur Tengah tengah berupaya merumuskan kesepakatan sementara dengan Iran untuk mengatur kembali pelayaran melalui Selat Hormuz.
Kabar tersebut meredakan sebagian kekhawatiran pasar setelah harga minyak melonjak lebih dari 6 persen pada Kamis akibat eskalasi serangan terhadap kapal-kapal di kawasan Timur Tengah.
Namun, perkembangan tersebut belum cukup untuk mengubah gambaran fundamental pasar. Gangguan terhadap jalur pelayaran dan infrastruktur energi masih menjadi risiko utama yang dapat mempertahankan harga minyak di level tinggi.
Analis FX Empire Christopher Lewis menilai pasar minyak mentah light sweet menunjukkan penguatan yang sangat kuat sepanjang pekan dan telah menembus USD100 per barel. Menurut dia, aksi ambil untung pada Jumat belum mengubah cerita utama pasar.
“Konflik yang tak kunjung berakhir di Timur Tengah mengancam mengganggu pasokan ke seluruh dunia, dan hal ini tercermin pada pergerakan harga,” tulis Lewis.
Lewis melihat pasar sebelumnya membentuk pola ascending triangle sebelum menembus batas atasnya. Kondisi tersebut mengindikasikan momentum bullish masih terbuka, sementara koreksi jangka pendek berpotensi kembali menarik minat beli.
“Situasi di Timur Tengah jelas masih menjadi masalah besar bagi minyak. Akibatnya, koreksi jangka pendek masih terlihat menawarkan peluang beli bagi mereka yang siap masuk dan memanfaatkannya,” ujarnya.
Pandangan bullish juga terlihat pada Brent. Lewis menilai harga Brent telah menembus USD100 dan bahkan hampir menyentuh USD110 pada perdagangan Jumat.
“Pasar ini terlihat sangat bullish. Brent juga bisa lebih sensitif terhadap konflik di Timur Tengah sehingga masuk akal jika tekanan bullish terlihat lebih kuat,” kata Lewis.
Dengan demikian, harga minyak berpeluang melanjutkan tren penguatan pada pekan ini apabila gangguan pasokan dan ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat. Sebaliknya, kemajuan diplomasi yang mampu menjamin kembali kelancaran pelayaran melalui Selat Hormuz dapat membuka ruang koreksi setelah reli tajam pekan lalu.
Lewis menilai koreksi masih berpotensi menjadi peluang beli selama risiko pasokan tetap membayangi pasar. Namun, ia juga mengingatkan bahwa harga minyak masih berada dalam kisaran yang terbentuk sepanjang tahun ini.
Artinya, arah minyak pekan ini akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik.
Jika risiko gangguan pasokan membesar, Brent berpeluang mempertahankan posisi di atas USD100 dan kembali menguji area USD110 per barel.
Sebaliknya, jika ketegangan mereda dan jalur pelayaran mulai kembali normal, reli pekan lalu berpotensi diikuti aksi ambil untung.
Untuk sementara, risiko kenaikan masih lebih dominan. Pasar minyak bukan hanya menghadapi persoalan harga, tetapi juga ketidakpastian mengenai seberapa lama pasokan dari kawasan Timur Tengah dapat terganggu. (Aldo Fernando)