sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Agenda Ekonomi Pekan Ini, Keputusan The Fed Bakal Jadi Sorotan

Market news editor Nia Deviyana
14/09/2026 06:12 WIB
Pekan yang berlangsung 14-18 September 2026 cukup krusial bagi pasar dengan sederet agenda ekonomi. 
Agenda Ekonomi Pekan Ini, Keputusan The Fed Bakal Jadi Sorotan. Foto: AP.
Agenda Ekonomi Pekan Ini, Keputusan The Fed Bakal Jadi Sorotan. Foto: AP.

IDXChannel - Pekan yang berlangsung 14-18 September 2026 cukup krusial bagi pasar dengan sederet agenda ekonomi

The Federal Reserve (The Fed) akan menggelar rapat FOMC September pada Selasa hingga Rabu (15-16 September), dengan merilis pernyataan kebijakan moneter dan Summary of Economic Projections (SEP) terbaru pada 16 September, yang kemudian dilanjutkan dengan konferensi pers.

SEP tersebut akan mencakup proyeksi pertumbuhan ekonomi, tingkat pengangguran, inflasi, dan suku bunga federal funds. Grafik yang mencerminkan penilaian anggota FOMC mengenai tingkat suku bunga yang dianggap tepat ini umum dikenal di pasar sebagai “dot plot”. Setiap titik (dot) mencerminkan pandangan masing-masing anggota mengenai level suku bunga federal funds yang dianggap sesuai pada akhir tahun tertentu, bukan merupakan komitmen resmi FOMC terhadap arah suku bunga di masa mendatang.

Jika dot plot menunjukkan median atau keseluruhan distribusi proyeksi suku bunga ke depan bergeser lebih tinggi dibandingkan proyeksi Juni, imbal hasil Treasury AS dan Indeks Dolar AS (US Dollar Index/DXY) berpotensi menguat, sehingga dapat menekan saham-saham teknologi dengan valuasi tinggi. Sebaliknya, jika median suku bunga bergeser lebih rendah, atau pernyataan kebijakan dan konferensi pers memberikan sinyal yang relatif dovish, sentimen pasar berpotensi mendapatkan dorongan positif.

Selain itu, AS juga akan merilis data penjualan ritel Agustus bersamaan dengan indeks harga impor dan ekspor pada Rabu (16/9/2026) pukul 08.30 waktu AS. Setelah itu, data persediaan bisnis Juli akan dirilis pada pukul 10.00.

Data penjualan ritel mencerminkan nilai penjualan nominal perusahaan ritel dan jasa makanan di AS, sehingga menjadi salah satu indikator penting untuk memantau perubahan konsumsi barang serta sejumlah jenis konsumsi jasa.

Jika data penjualan ritel jauh lebih kuat dari perkiraan, hal tersebut dapat menunjukkan permintaan konsumen masih kuat dan memperkuat ekspektasi pasar bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan moneter yang lebih ketat. Sebaliknya, jika pertumbuhan penjualan ritel melambat secara signifikan, ekspektasi kenaikan suku bunga lebih lanjut dapat mereda.

Data penjualan ritel akan dirilis sekitar lima setengah jam sebelum The Fed mengumumkan keputusan kebijakan moneternya. Oleh karena itu, data tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar terhadap keputusan suku bunga sekaligus arah kebijakan The Fed selanjutnya.

Di zona euro, data ekonomi lebih tipis memberikan waktu bagi pasar untuk mencerna kenaikan suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB) serta sinyal yang disampaikan bank sentral mengenai arah kebijakan moneter ke depan, yang mengindikasikan pengetatan kebijakan masih akan berlanjut.

Pasar uang memperkirakan probabilitas sebesar 65 persen untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Oktober dan sepenuhnya memperhitungkan kenaikan tersebut pada akhir tahun, menurut LSEG.

Di Jepang, Bank of Japan (BOJ) diperkirakan menaikkan suku bunga acuannya pada Jumat, seiring pernyataan sejumlah pejabat yang cenderung hawkish dan data ekonomi yang solid semakin memperkuat alasan untuk melakukan pengetatan kebijakan. Dengan pasar yang semakin yakin bahwa kenaikan suku bunga sudah hampir pasti terjadi, perhatian akan tertuju pada panduan kebijakan BOJ ke depan.

“Kami memperkirakan BOJ akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada pertemuan September, sementara kenaikan 50 basis poin kami nilai kecil kemungkinannya,” kata Morgan Stanley MUFG Securities.

Menjelang keputusan tersebut, pelaku pasar akan mencermati data inflasi Agustus.

Imbal hasil obligasi juga akan menjadi perhatian ketika pasar surat utang global menghadapi ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi, kekhawatiran inflasi, serta kekhawatiran mengenai prospek fiskal Amerika Serikat.

Kementerian Keuangan Jepang dijadwalkan melelang obligasi pemerintah Jepang (JGB) bertenor 20 tahun senilai sekitar 700 miliar yen (USD4,53 miliar) pada Selasa. Surat utang tersebut merupakan penerbitan kembali obligasi yang diterbitkan pada Juli 2026.

Investor kemungkinan mengambil sikap wait and see terhadap lelang tersebut menjelang pertemuan BOJ.

“Di tengah berbagai pemberitaan mengenai kondisi penawaran dan permintaan di segmen obligasi berjangka sangat panjang, lelang ini akan menjadi ujian terhadap permintaan investor,” kata ahli strategi Barclays Securities Japan.

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement