Harga Minyak Turun, Trump Sinyalkan Perang Iran Segera Berakhir
Harga minyak melemah pada Rabu (1/4/2026) setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa AS akan segera mengakhiri perang dengan Iran.
IDXChannel - Harga minyak dunia ditutup melemah pada Rabu (1/4/2026) setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa AS akan segera mengakhiri perang dengan Iran.
Kontrak Brent bulan Juni turun 2,7 persen menjadi USD101,16 per barel, setelah sempat menyentuh level terendah USD98,35 dalam sesi perdagangan.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Mei terkoreksi atau sekitar 1,2 persen ke USD100,12 per barel, dari posisi terendah harian di USD96,50.
Trump, yang dijadwalkan menyampaikan pidato pada hari yang sama, mengatakan kepada Reuters bahwa AS telah memastikan Iran tidak akan memiliki senjata nuklir dan siap keluar dari perang “dengan cukup cepat”.
Pada Selasa, Trump juga memberi sinyal bahwa AS dapat mengakhiri perang dalam dua hingga tiga pekan bahkan tanpa kesepakatan, pernyataan yang membuat harga minyak turun lebih dari USD3 per barel pada sesi perdagangan tersebut.
Analis SEB menyebut pelaku pasar bertaruh Trump tidak akan membiarkan gangguan pasokan minyak akibat perang Timur Tengah berlanjut hingga pertengahan Mei, saat permintaan bensin AS biasanya mencapai puncaknya.
“Risiko terhadap harga bensin AS, sentimen konsumen, dan pada akhirnya pemilu paruh waktu November membuat konflik berkepanjangan menjadi mahal secara politik,” tulis analis SEB.
Pada Senin, harga bensin AS sempat menembus USD4 per galon untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun.
Dalam unggahan media sosial pada Rabu, Trump menyatakan Iran telah meminta gencatan senjata, namun ia baru akan mempertimbangkannya setelah Teheran berhenti memblokir Selat Hormuz. Iran membantah telah mengajukan permintaan tersebut.
Iran menghentikan kapal melintasi Selat Hormuz sejak AS dan Israel melancarkan serangan pada akhir Februari. Kondisi ini mengganggu ekspor minyak Timur Tengah dan mendorong kenaikan harga bahan bakar global.
Analis memperkirakan arus energi melalui Selat Hormuz pulih secara bertahap dan cenderung lambat kembali ke level sebelum konflik, bahkan jika gencatan senjata diumumkan.
“Peluang keluarnya AS dari perang Iran terlihat semakin besar, tetapi status Selat Hormuz masih sangat tidak pasti dan tetap membutuhkan premi risiko geopolitik meskipun pasokan minyak global mulai longgar,” tulis penasihat perdagangan minyak Ritterbusch and Associates.
Kepala International Energy Agency (IEA) Fatih Birol mengatakan gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah meningkat pada April dan akan berdampak pada Eropa seiring penutupan Selat Hormuz yang menekan ekspor lebih lanjut.
Penutupan Selat Hormuz juga berdampak pada produksi minyak mentah negara-negara anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC), yang turun 7,5 juta barel per hari pada Maret dibandingkan bulan sebelumnya karena produsen terpaksa memangkas produksi akibat kapasitas penyimpanan penuh.
Data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan produksi minyak mentah AS pada Januari turun paling dalam dalam dua tahun setelah badai musim dingin parah menghentikan sebagian operasi produksi.
Survei Reuters terhadap pelaku industri menunjukkan Arab Saudi berpotensi menaikkan harga jual resmi minyak mentah untuk pasar Asia pada Mei ke level rekor, setelah minyak Timur Tengah menjadi yang termahal secara global.
Sementara itu, persediaan minyak mentah AS meningkat lebih besar dari perkiraan pada pekan lalu, berdasarkan data Energy Information Administration (EIA) yang dirilis Rabu. (Aldo Fernando)