Isu Timur Tengah Topang Harga Minyak Meski Stok AS Melonjak
Harga minyak naik sekitar 1 persen pada Rabu (11/2/2026), didorong kekhawatiran investor atas meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS).
IDXChannel - Harga minyak naik sekitar 1 persen pada Rabu (11/2/2026), didorong kekhawatiran investor atas meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang tengah bersiap melanjutkan perundingan.
Namun, kenaikan tertahan oleh laporan mingguan yang menunjukkan lonjakan besar persediaan minyak mentah AS.
Minyak mentah Brent ditutup naik 60 sen atau 0,87 persen ke USD69,40 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 67 sen atau hampir 1,05 persen menjadi USD64,63 per barel.
“Pasar masih ditopang ketegangan antara AS dan Iran serta negosiasi yang naik-turun dan belum menghasilkan penyelesaian,” ujar Presiden Lipow Oil Associates Andrew Lipow, dikutip dari Reuters.
Presiden AS Donald Trump mengatakan belum ada keputusan final dalam pertemuannya dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Rabu, tetapi negosiasi menuju kesepakatan dengan Iran akan terus berlanjut.
Sehari sebelumnya, Trump menyatakan tengah mempertimbangkan pengiriman kapal induk kedua ke Timur Tengah jika kesepakatan dengan Iran tidak tercapai, meski Washington dan Teheran bersiap melanjutkan perundingan.
Diplomat AS dan Iran menggelar pembicaraan tidak langsung di Oman pekan lalu, di tengah peningkatan kehadiran militer laut AS di kawasan yang dinilai menekan Iran.
Tanggal dan lokasi putaran perundingan berikutnya belum diumumkan.
“Meski retorika kadang terdengar keras, untuk saat ini belum ada tanda-tanda eskalasi. Presiden AS meyakini Iran pada akhirnya ingin mencapai kesepakatan terkait program nuklir dan misilnya,” tulis analis PVM Oil Associates Tamas Varga dalam catatannya.
Harga minyak juga mendapat dukungan dari data ketenagakerjaan AS yang menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja secara tak terduga menguat pada Januari.
Sementara, tingkat pengangguran turun menjadi 4,3 persen, menurut Departemen Tenaga Kerja AS, menandakan ekonomi tetap sehat.
“Pasar tenaga kerja yang tangguh menopang permintaan bahan bakar transportasi, petrokimia, dan pembangkit listrik, sehingga mengurangi risiko penurunan konsumsi AS ketika sentimen makro sempat berhati-hati,” tulis Rystad Energy.
Analis Rystad menambahkan, stabilitas pasar tenaga kerja memperkuat pandangan bahwa prospek permintaan kian solid.
Meski demikian, kenaikan harga dibatasi oleh lonjakan persediaan minyak mentah AS sebesar 8,5 juta barel menjadi 428,8 juta barel pada pekan lalu, menurut Energy Information Administration (EIA).
Angka ini jauh melampaui ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan kenaikan 793.000 barel.
“Produksi domestik kembali melonjak dan sudah tidak jauh dari rekor tertinggi sepanjang masa,” kata Direktur Energy Futures Mizuho Robert Yawger.
Di pasar yang lebih luas, OPEC dalam laporan bulanannya mempertahankan proyeksi pasokan dan permintaan minyak.
Namun, organisasi tersebut menyoroti bahwa permintaan global terhadap minyak mentah dari kelompok yang lebih luas diperkirakan turun 400.000 barel per hari pada kuartal II dibandingkan kuartal I.
Sementara itu, produksi minyak Rusia turun sekitar 0,6 persen pada Januari dibandingkan Desember, menurut laporan tersebut.
“Di sisi lain, Mesir mengarahkan perusahaan minyak internasional untuk menggandakan produksi pada 2030, dengan kontrak yang ada direvisi guna mendorong investasi baru,” kata Country Manager Energean International untuk Mesir kepada Reuters pada Selasa. (Aldo Fernando)