MARKET NEWS

Juni Kerap Jadi Bulan Positif bagi Lima Saham LQ45 Ini

TIM RISET IDX CHANNEL 03/06/2026 06:13 WIB

Investor kini memasuki Juni dengan sejumlah agenda penting yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan indeks.

Juni Kerap Jadi Bulan Positif bagi Lima Saham LQ45 Ini. (Foto: Magnific)

IDXChannel - Setelah melewati periode yang penuh tekanan di pasar saham, investor kini memasuki Juni dengan sejumlah agenda penting yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan indeks.

Di tengah ketidakpastian tersebut, beberapa saham LQ45 memiliki catatan historis yang relatif baik pada bulan ini.

Berdasarkan data historis 15 tahun terakhir, saham-saham seperti PT Indosat Tbk (ISAT), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), dan PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) mencatat rata-rata kinerja positif pada bulan Juni.

Saham ISAT menjadi yang tertinggi dalam daftar tersebut dengan rata-rata kenaikan 4,92 persen setiap Juni dalam 15 tahun terakhir.

Saat ini saham ISAT diperdagangkan di level Rp2.160 per unit, meski secara tahun berjalan (year-to-date/YtD) masih terkoreksi 10,34 persen.

Di posisi berikutnya terdapat JPFA dengan rata-rata kenaikan Juni sebesar 4,04 persen. Saham emiten poultry tersebut berada di harga Rp2.450 per saham dan masih melemah 6 persen sepanjang tahun ini.

AMRT juga termasuk saham yang secara historis cukup bersahabat pada Juni dengan rata-rata kenaikan 3,82 persen.

Namun, saham pengelola jaringan Alfamart itu masih mengalami tekanan cukup dalam dengan koreksi sekitar 30 persen secara YtD ke level Rp1.150 per saham.

Sementara itu, TOWR mencatat rata-rata kenaikan Juni sebesar 2,86 persen dalam 15 tahun terakhir.

Saham operator menara telekomunikasi tersebut saat ini berada di harga Rp380 per saham dan menjadi salah satu yang mengalami penurunan terdalam dalam daftar ini dengan pelemahan sekitar 35 persen sejak awal tahun.

Berbeda dengan saham lainnya, ESSA menjadi satu-satunya emiten yang masih membukukan kinerja positif sepanjang tahun berjalan.

Saham ESSA yang diperdagangkan di level Rp670 per saham tercatat naik 14 persen secara YtD, sementara rata-rata kenaikannya pada Juni dalam 15 tahun terakhir mencapai 2,42 persen.

Meski demikian, pelaku pasar perlu mencermati bahwa pola musiman tidak selalu berujung pada penguatan harga saham.

Kinerja negatif mayoritas saham tersebut sejak awal tahun menunjukkan sentimen pasar saat ini jauh lebih dipengaruhi faktor transparansi pasar, fundamental, hingga kondisi makro dibanding pola historis semata.

Sebagai catatan, tekanan terhadap saham-saham LQ45 sepanjang tahun ini sejalan dengan koreksi IHSG yang telah mencapai sekitar 28,20 persen.

Pelemahan tersebut dipicu kombinasi sentimen domestik dan global, mulai dari isu aksesibilitas dan transparansi pasar modal Indonesia yang menjadi perhatian MSCI, rebalancing indeks global FTSE, ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, pelemahan nilai tukar rupiah ke level terendah terhadap dolar AS, hingga kekhawatiran terhadap kondisi fiskal dalam negeri.

Faktor Musiman Juni dan MSCI

Secara historis, Juni sebenarnya termasuk bulan yang relatif positif bagi pasar saham Indonesia.

Dalam 20 tahun terakhir, IHSG mencatat kenaikan pada 13 dari 20 periode Juni sejak 2006 atau memiliki probabilitas naik sekitar 62 persen. Rata-rata kinerja indeks pada bulan tersebut juga masih positif sebesar 0,29 persen.

Namun, sejarah juga menunjukkan bahwa performa Juni tidak selalu konsisten. IHSG pernah melonjak 4,58 persen pada Juni 2016 dan 3,19 persen pada Juni 2020, tetapi juga sempat turun 3,46 persen pada Juni 2025 dan melemah 3,32 persen pada Juni 2022.

Tahun ini, perhatian investor akan tertuju pada sejumlah agenda penting. Pada 18 Juni, MSCI dijadwalkan merilis Global Market Accessibility Review yang mengevaluasi tingkat aksesibilitas pasar modal Indonesia bagi investor asing. Sehari setelahnya, perubahan indeks FTSE mulai berlaku efektif.

Puncak perhatian pasar diperkirakan terjadi pada 23 Juni saat MSCI mengumumkan Annual Market Classification Review.

Pasar menunggu keputusan apakah Indonesia akan masuk ke tahap peninjauan formal terkait potensi penurunan status dari pasar berkembang (Emerging Market) menjadi pasar frontier (Frontier Market).

Selain itu, investor juga mencermati implementasi kebijakan baru terkait PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), perkembangan nilai tukar rupiah, serta dinamika konflik di Timur Tengah.

Analis menilai setiap eskalasi baru, termasuk potensi gangguan di Selat Hormuz, dapat kembali meningkatkan volatilitas pasar dan memengaruhi arah pergerakan saham pada bulan ini. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE