MARKET NEWS

Kinerja Bank Jago Solid, Prospek Saham ARTO Dinilai Menarik

TIM RISET IDX CHANNEL 24/07/2026 07:06 WIB

PT Bank Jago Tbk (ARTO) membukukan pertumbuhan kinerja pada semester I-2026 dengan ekspansi yang terjadi di berbagai lini usaha.

Kinerja Bank Jago Solid, Prospek Saham ARTO Dinilai Menarik. (Foto: Bank Jago)

IDXChannel - PT Bank Jago Tbk (ARTO) membukukan pertumbuhan kinerja pada semester I-2026 dengan ekspansi yang terjadi di berbagai lini usaha, mencerminkan hasil positif berkat dimulainya transformasi sejak lima tahun lalu.

Sejumlah analis menilai pencapaian tersebut didukung  pertumbuhan yang berkelanjutan, ditopang oleh fundamental yang kokoh, sinergi ekosistem yang teruji, serta inovasi produk yang kian variatif.

Berdasarkan laporan per Juni 2026, Bank Jago mencatat pertumbuhan kredit dan pembiayaan sebesar 24 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp26,62 triliun. Angka tersebut berada di atas rata-rata pertumbuhan kredit industri perbankan yang tercatat sebesar 12,67 persen.

Di sisi lain, pertumbuhan kredit tetap diimbangi dengan pengelolaan risiko yang terjaga.

Hal itu tercermin dari rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) gross yang berada di level 0,8 persen, lebih rendah dibandingkan rata-rata industri perbankan nasional.

“Kemampuan manajemen menjaga kualitas aset di tengah kondisi ekonomi yang masih penuh tantangan menjadi pencapaian yang patut diapresiasi,” ujar Analis Phintraco Sekuritas Aditya Prayoga.

Pada sisi pendanaan, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 23 persen secara tahunan menjadi Rp27,6 triliun.

Pertumbuhan tersebut didukung oleh penambahan hampir 3 juta nasabah baru sehingga total basis pengguna mencapai 20,1 juta. Sementara itu, komposisi dana murah atau current account and savings account (CASA) mencapai 53 persen dari total DPK.

Menurut Aditya, salah satu tantangan utama yang dihadapi industri perbankan saat ini adalah lingkungan suku bunga yang tinggi.

Kondisi tersebut dipengaruhi oleh kebijakan Bank Indonesia (BI) yang telah menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebanyak tiga kali menjadi 5,75 persen sejak awal tahun.

Selain itu, belum adanya kepastian mengenai penempatan dana sisa anggaran lebih (SAL) pemerintah di bank Himbara turut memicu persaingan penghimpunan dana sehingga biaya dana meningkat.

“Di tengah perebutan likuiditas yang berlangsung sengit, DPK Jago justru bisa tumbuh 23 persen dengan proporsi CASA mencapai lebih dari 50 persen. Pencapaian ini menunjukkan bahwa sinergi ekosistem antara JAGO dengan sejumlah mitra strategisnya seperti GOTO, Stockbit, Bibit dan BFI Finance menunjukkan progres yang menggembirakan,” kata Aditya.

Direktur Utama Bank Jago, Arief Harris Tandjung, mengatakan capaian tersebut merupakan hasil dari kombinasi inovasi layanan dan penguatan kolaborasi dalam ekosistem bisnis.

Menurutnya, perusahaan terus menjaga keseimbangan antara kerja sama dengan mitra strategis dan pengembangan penyaluran kredit langsung kepada nasabah.

"Kami berkomitmen terus menjalankan kolaborasi bisnis dan penyaluran kredit yang telah terbangun baik selama lima tahun terakhir. Pada saat yang sama kami juga mengembangkan penyaluran kredit secara langsung kepada nasabah melalui konsep pembiayaan yang bertanggung jawab untuk menjangkau segmen nasabah yang lebih luas," ujar Arief dalam siaran pers, Kamis (23/7/2026).

Analis Sinarmas Sekuritas Yosua Zisokhi menilai kerja sama Bank Jago dengan berbagai mitra dalam ekosistem digital, platform teknologi, maupun perusahaan pembiayaan, termasuk BFI Finance, menjadi salah satu faktor yang mendukung pertumbuhan penyaluran kredit secara terukur.

Kemitraan dengan BFI Finance sendiri telah berlangsung sejak 2021 melalui skema pembiayaan bersama (joint financing).

“Langkah ini merupakan implementasi nyata dari strategi partnership lending berbasis ekosistem untuk menjangkau nasabah lebih luas. Konsistensi laba bersih adalah hasil konkret dari investasi yang dirintis sejak 2020,” katanya.

Menurut Yosua, sumber pertumbuhan Bank Jago kini semakin beragam dan tidak lagi bergantung pada satu ekosistem.

Perluasan penyaluran kredit melalui produk seperti Jago Dana Cepat, Jago Dana Siaga, serta layanan Business Banking dinilai turut memperluas portofolio pembiayaan perseroan.

"Dengan basis portofolio yang beragam, ruang pertumbuhan Bank Jago tetap terbuka mengingat ARTO tidak bergantung pada satu ekosistem," papar Yosua.

Yosua juga menyoroti perkembangan pembiayaan syariah Bank Jago yang tumbuh 370 persen secara tahunan menjadi Rp331,86 miliar hingga Juni 2026. Pertumbuhan tersebut didorong oleh kerja sama strategis dengan Unit Syariah BFI Finance.

Lebih lanjut, analis tersebut menilai fleksibilitas Bank Jago dalam mengadopsi model bisnis konvensional dan syariah sekaligus memberikan value proposition unik di industri.

"Hanya Bank Jago yang bisa melayani kedua segmen tersebut secara simultan," ujarnya.

Baginya, diversifikasi syariah bukan sekadar perluasan lini bisnis, melainkan langkah krusial untuk melayani kebutuhan nasabah secara komprehensif dalam jangka panjang.

Fundamental yang terjaga serta diversifikasi bisnis yang semakin luas dinilai menjadi faktor yang menopang prospek pertumbuhan Bank Jago dalam jangka menengah hingga panjang.

Pandangan tersebut juga tercermin dalam konsensus analis yang mayoritas masih memberikan rekomendasi brli terhadap saham ARTO, seiring ekspektasi bahwa perseroan masih memiliki ruang untuk mempertahankan pertumbuhan bisnisnya.

Berdasarkan data Stockbit, mayoritas analis masih memberikan rekomendasi Buy terhadap saham ARTO.

Sebanyak 12 analis memberikan rekomendasi Buy, sementara empat analis lainnya merekomendasikan Hold. Tidak ada analis yang memberikan rekomendasi Sell. Dari 16 analis yang dihimpun, rata-rata target harga saham ARTO berada di level Rp1.924, dengan kisaran target terendah Rp1.330 dan target tertinggi Rp2.400. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE