MARKET NEWS

Momentum Rupiah dan Bayang-Bayang Harga Minyak USD100 per Barel

TIM RISET IDX CHANNEL 14/09/2026 06:24 WIB

Penguatan rupiah mulai menghadapi ujian baru setelah harga minyak kembali menembus USD100 per barel.

Momentum Rupiah dan Bayang-Bayang Harga Minyak USD100 per Barel. (Foto: Magnific)

IDXChannel – Penguatan rupiah mulai menghadapi ujian baru setelah harga minyak kembali menembus USD100 per barel.

Sejumlah analis menilai rupiah masih memiliki ruang untuk menguat dalam jangka pendek, tetapi lonjakan harga minyak dapat kembali menekan mata uang Garuda melalui jalur fiskal dan neraca eksternal.

Ekonom Indo Premier Sekuritas Kefas Sidauruk dalam riset 10 September 2026 mencatat rupiah telah menguat ke kisaran Rp17.500 per USD, atau naik 1,2 persen secara month-to-date (MTD), mengungguli penguatan mata uang Asia yang mencapai 0,5 persen.

Penguatan tersebut terjadi seiring membaiknya sentimen dan pelemahan dolar Amerika Serikat (AS).

Menurut Indo Premier, penguatan rupiah juga didukung oleh fundamental dan perbaikan sentimen, termasuk terjaganya batas defisit fiskal 2026, target defisit 2027 yang lebih rendah, serta minimnya kejutan kebijakan.

Namun, kenaikan harga minyak ke sekitar USD100 per barel kembali menjadi perhatian.

Indo Premier menilai, apabila harga minyak bertahan di level tersebut hingga akhir 2026, tekanan terhadap anggaran negara berpotensi meningkat dan pada akhirnya membebani rupiah.

Risiko tersebut terutama berasal dari kebutuhan subsidi dan kompensasi energi. Dalam pembaruan anggaran pada Juli 2026, pemerintah telah menaikkan anggaran subsidi dan kompensasi energi sebesar Rp132 triliun menjadi Rp470 triliun, dengan asumsi harga Indonesian Crude Price (ICP) sebesar USD83 per barel.

Indo Premier memperkirakan, jika harga minyak bertahan sekitar USD100 per barel hingga akhir tahun, rata-rata harga minyak 2026 dapat mencapai sekitar USD91 per barel.

Dalam skenario tersebut, kompensasi bahan bakar saja berpotensi mencapai Rp284 triliun, atau sekitar Rp41 triliun di atas anggaran kompensasi yang telah disesuaikan.

Kondisi itu, belum memperhitungkan tambahan kompensasi listrik, berpotensi mendorong defisit fiskal 2026 menembus sekitar 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Tekanan tersebut juga menjadi perhatian ekonom CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI) Wisnu Trihatmojo.

Dalam risetnya, yang terbit pada 10 September 2026, Wisnu menilai penguatan rupiah saat ini merupakan proses mean reversion setelah depresiasi signifikan pada paruh pertama 2026.

Rupiah bahkan dinilai masih sangat undervalued. Berdasarkan kerangka real effective exchange rate (REER), CGSI memperkirakan rupiah sempat undervalued hingga 12 persen pada Juli 2026, level yang disebut sebagai yang terdalam dalam lebih dari satu dekade.

Kondisi tersebut, ditambah stabilnya kebijakan domestik, membantu rupiah bertahan menghadapi berbagai tekanan eksternal, termasuk kenaikan harga minyak Brent di atas USD100 per barel, kenaikan imbal hasil global, dan ekspektasi pengetatan kebijakan Federal Reserve.

CGSI menilai penguatan rupiah belakangan ini ditopang oleh sejumlah faktor, mulai dari pelemahan indeks dolar AS (DXY), berakhirnya faktor musiman pembayaran dividen, kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI), suksesi kepemimpinan BI yang dinilai kredibel, hingga arah fiskal yang lebih stabil.

Aliran modal ke surat utang pemerintah juga ikut membantu, seiring meredanya ketidakpastian domestik dan menariknya valuasi aset Indonesia.

Pada saat yang sama, CGSI mencatat penguatan rupiah terhadap dolar AS telah berlangsung selama enam pekan berturut-turut. Rupiah berada sekitar 3,5 persen lebih kuat dari level terlemahnya tahun ini, meski masih melemah 4,5 persen secara year-to-date.

Meski demikian, CGSI memperingatkan bahwa kenaikan harga minyak yang bertahan lama dapat kembali memperlebar defisit kembar (twin deficit), yakni defisit transaksi berjalan dan fiskal.

Berdasarkan estimasinya, setiap kenaikan harga minyak sebesar 10 persen berpotensi meningkatkan masing-masing defisit tersebut sekitar 0,2 poin persentase.

Risiko eksternal juga belum sepenuhnya hilang. Pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada 16 September mencapai 63 persen, dengan keputusan tersebut bergantung pada data inflasi AS.

Jika The Fed mengejutkan pasar dengan pengetatan yang lebih agresif, kenaikan imbal hasil Treasury AS dapat kembali memberikan tekanan terhadap rupiah.

Karena itu, CGSI memandang penguatan rupiah saat ini belum cukup untuk menghilangkan kerentanan struktural.

“Rupiah pada akhirnya dapat kembali tertekan jika tingginya harga minyak memperlebar defisit kembar, The Fed menaikkan suku bunga beberapa kali, dan tingginya imbal hasil US Treasury (UST) memicu arus keluar modal,” tulis Wisnu.

Penguatan yang berkelanjutan, menurut CGSI, membutuhkan stabilitas kebijakan domestik, penguatan penerimaan fiskal, serta strategi substitusi impor di sektor industri dan jasa.

Dari sisi neraca pembayaran, CGSI menyoroti meningkatnya impor jasa nontransportasi dan pelebaran defisit pendapatan primer akibat meningkatnya repatriasi dividen.

Sementara pada transaksi finansial, Foreign Direct Investment (FDI) yang stagnan, menyusutnya investasi portofolio, serta meningkatnya arus modal keluar oleh penduduk domestik juga menjadi tantangan. Arus keluar aset kas dan deposito sektor swasta bahkan mencapai USD9,8 miliar pada semester I-2026.

Dengan demikian, ruang penguatan rupiah masih terbuka selama dolar AS tetap melemah dan tidak terjadi kejutan kebijakan domestik.

Namun, harga minyak yang bertahan tinggi serta potensi pengetatan The Fed dapat menjadi penghalang berikutnya.

Indo Premier menilai risiko fiskal menjadi tekanan terbesar bagi rupiah dalam jangka menengah. Di sisi lain, stabilisasi cadangan devisa memberikan bantalan, dengan cadangan devisa telah meningkat sekitar USD1,5 miliar dari titik terendah pada Mei 2026.

Artinya, reli rupiah kali ini tidak hanya akan ditentukan oleh arah dolar AS dan kebijakan suku bunga, tetapi juga seberapa lama Indonesia mampu menahan dampak harga minyak tinggi terhadap fiskal dan neraca eksternal. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE