MARKET NEWS

Nasib AMMN-BRMS di GDX Jadi Sorotan, Kapan EMAS Naik Kelas?

TIM RISET IDX CHANNEL 02/06/2026 06:53 WIB

Sejumlah saham tambang emas Indonesia yang menjadi anggota indeks VanEck Gold Miners ETF (GDX) dinilai masih relatif aman dari risiko penghapusan.

Nasib AMMN-BRMS di GDX Jadi Sorotan, Kapan EMAS Naik Kelas? (Foto: IDXChannel)

IDXChannel - Sejumlah saham tambang emas Indonesia yang menjadi anggota indeks VanEck Gold Miners ETF (GDX) dinilai masih relatif aman dari risiko penghapusan dalam peninjauan indeks periode Juni 2026, meski terdapat perubahan perhitungan free float yang belakangan diterapkan di pasar modal Indonesia.

Analis Indo Premier Sekuritas Ryan Winipta dan Reggie Parengkuan dalam riset yang terbit pada 29 Mei 2026 menilai risiko keluarnya PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dari indeks GDX tetap ada, namun peluangnya terbatas.

Menurut mereka, metodologi GDX memungkinkan anggota indeks yang sudah eksisting untuk tetap bertahan selama masih berada dalam cakupan 98 persen kapitalisasi pasar free float dari seluruh emiten yang memenuhi kriteria.

"Saat ini AMMN dan BRMS memang berada di kelompok 10 konstituen dengan bobot terkecil di GDX, namun keduanya masih berada dalam cakupan 98 persen kapitalisasi pasar free float tersebut," tulis Ryan dan Reggie.

Selain memenuhi syarat kapitalisasi pasar free float, emiten anggota GDX juga diwajibkan memperoleh minimal 25 persen pendapatan dari kegiatan pertambangan emas atau perak.

Berdasarkan kinerja kuartal I-2026, AMMN memenuhi ketentuan tersebut dengan kontribusi sekitar 32 persen pendapatan, sementara BRMS hampir seluruh pendapatannya berasal dari bisnis emas.

Indo Premier juga menilai perubahan aturan free float di Bursa Efek Indonesia (BEI), termasuk kewajiban pelaporan kepemilikan di atas 1 persen dan penambahan 39 klasifikasi saham tertentu, tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap perhitungan free float yang digunakan GDX.

Pasalnya, GDX hanya mengecualikan saham yang dikategorikan sebagai kepemilikan terkonsentrasi (closely held shares) dengan porsi di atas 5 persen dari total kapitalisasi pasar.

“Oleh karena itu, kami menilai penyesuaian free float yang berasal dari regulasi baru BEI tidak akan banyak memengaruhi perhitungan free float AMMN dan BRMS,” kata Ryan dan Reggie.

Di sisi lain, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) dinilai berpeluang naik kelas dari indeks VanEck Junior Gold Miners ETF (GDXJ) ke GDX seiring dimulainya produksi emas pada kuartal I-2026.

Meski demikian, Ryan dan Reggie menilai peluang tersebut belum akan terjadi dalam waktu dekat.

Produksi emas EMAS pada kuartal pertama tahun ini masih relatif kecil, yakni sekitar 1.800 ons, dan belum tercermin dalam laporan keuangan karena belum terdapat penjualan yang dibukukan.

Selain itu, proses dual listing yang tengah ditempuh perusahaan di Hong Kong berpotensi membuat publikasi laporan keuangan menjadi lebih terbatas selama periode blackout.

"Kami melihat potensi masuknya EMAS ke GDX dapat menjadi katalis tambahan setelah dual listing, baik pada peninjauan (review) kuartalan September maupun Desember 2026," tulis mereka.

Indo Premier memperkirakan EMAS berpotensi memenuhi ambang batas kapitalisasi pasar free float untuk masuk GDX apabila harga sahamnya mampu diperdagangkan di atas Rp8.000 per unit.

Namun, batas tersebut bersifat dinamis karena dipengaruhi pergerakan saham-saham tambang emas global yang menjadi anggota GDX serta fluktuasi nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah.

Sementara itu, untuk indeks GDXJ, Indo Premier memperkirakan tidak akan ada penambahan maupun penghapusan saham Indonesia pada peninjauan Juni 2026 karena indeks tersebut hanya melakukan evaluasi secara semesteran.

Sejauh ini, mereka juga belum melihat adanya risiko penghapusan terhadap anggota Indonesia yang sudah berada di dalam indeks tersebut.

Peninjauan indeks kali ini berlangsung di tengah tekanan yang masih membayangi sektor tambang emas global.

Indo Premier mencatat indeks GDX dan GDXJ masing-masing telah terkoreksi sekitar 27 persen dan 28 persen dari level puncaknya, seiring pelemahan harga emas ke kisaran USD4.500 per troy ons.

Bahkan, saham-saham anggota GDX asal Indonesia mengalami penurunan yang lebih dalam dibandingkan indeks acuannya.

Harga saham AMMN telah merosot sekitar 61 persen dari level tertinggi, sementara BRMS turun sekitar 54 persen. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE