MARKET NEWS

OJK: 71 Perusahaan Antre IPO, Potensi Himpun Dana Rp49,84 Triliun

Iqbal Dwi Purnama 21/05/2026 20:15 WIB

71 perusahan tersebut saat ini dalam tahap proses penilaian sebelum mendapatkan perizinan dari OJK.

OJK: 71 Perusahaan Antre IPO, Potensi Himpun Dana Rp49,84 Triliun. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengungkapkan hingga awal Mei 2026 setidaknya ada 71 perusahan yang masuk dalam antrean (pipeline) Initial Public Offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI). 

Hasan menjelaskan, 71 perusahan tersebut saat ini dalam tahap proses penilaian sebelum mendapatkan perizinan dari OJK. Adapun potensi total penghimpunan dana dari para perusahan tersebut tembus Rp49,84 triliun. 

"Di awal Mei, kami masih mencatat ada 71 rencana penawaran umum yang berada dalam pipeline perizinan, dengan potensi penghimpunan dana tambahan sekitar Rp49,84 triliun," ujarnya dalam MNC Forum di Jakarta Concert Hall iNews Tower, Kamis (21/5/2026).

Hasan mengatakan kondisi ini mencerminkan bahwa pasar modal masih menjadi sarana yang efektif untuk penghimpunan dana dan sumber pembiayaan perusahaan untuk melakukan ekspansi usaha. 

Dia menyebut, hingga April 2026 total pendanaan yang diperoleh korporasi di pasar modal totalnya mencapai Rp56,35 triliun. Meski belum menunjukan pertumbuhan, namun angka tersebut dianggap cukup stabil jika dibandingkan dengan periode sebelumnya. 

"Pertumbuhan investor domestik tahun ini mencapai titik tertinggi. Per hari ini jumlah investor sudah lebih dari 27 juta investor, sementara pada akhir tahun lalu masih berada di kisaran 20 jutaan. Artinya sudah ada tambahan lebih dari 7 juta investor baru," kata Hasan.

Pada kesempatan yang sama, Executive Chairman MNC Group, Hary Tanoesoedibjo mengatakan pasar modal merupakan instrumen pembiayaan jangka panjang bagi perusahaan. Sebab perusahaan tidak bisa hanya mengandalkan utang sebagai sumber pembiayaan. 

"Pasar modal itu adalah super penting. Dulu sebelum ada pasar modal, saham itu dimiliki satu dua orang atau beberapa orang. Kalau mau tumbuh, kan tidak mungkin utang bank terus, utang itu ada batasnya," kata dia. 

Dia juga menyinggung peran pasar modal dalam pembangunan ekonomi sebuah negara. Pasalnya, China tumbuh pesat setelah membuka akses pasar modal dan pembiayaan jangka panjang. Menurutnya, kondisi serupa juga terjadi di berbagai negara lain yang akhirnya mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi setelah membuka sistem pasar modalnya.

"Dulu China tidak memiliki pasar modal yang kuat. Namun ketika mereka membuka pasar modal, modal murah masuk dan mampu membiayai investasi dalam jumlah besar, akhirnya China (punya ekonomi) sangat besar," ujarnya.

(NIA DEVIYANA)

SHARE