MARKET NEWS

Potongan Komisi Ojol Jadi 8 Persen, Intip Dampaknya ke GOTO

TIM RISET IDX CHANNEL 01/07/2026 10:22 WIB

GoTo mengumumkan layanan GoRide akan menerapkan tarif komisi baru sebesar 8 persen mulai 1 Juli 2026, turun dari skema awal sebesar 20 persen.

Potongan Komisi Ojol Jadi 8 Persen, Intip Dampaknya ke GOTO. (Foto: Gojek)

IDXChannel - Dampak aturan pembatasan komisi layanan transportasi daring atau ojek online (ojol) sebesar 8 persen terhadap PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dinilai berpotensi lebih ringan dari kekhawatiran pasar.

Namun, sejumlah tekanan masih membayangi saham perusahaan, terutama terkait kepastian regulasi dan likuiditas.

Dalam riset analis UOB Kay Hian Willinoy Sitorus dan Audrey Celia yang terbit 30 Juni 2026, disebutkan bahwa kebijakan komisi 8 persen saat ini hanya berlaku untuk layanan roda dua (2W), yakni GoRide milik GOTO, bukan seluruh lini bisnis transportasi dan pengiriman.

GoTo mengumumkan layanan GoRide akan menerapkan tarif komisi baru sebesar 8 persen mulai 1 Juli 2026, turun dari skema awal sebesar 20 persen.

Kebijakan tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto pada 1 Mei untuk meningkatkan kesejahteraan pengemudi transportasi daring, sembari menunggu penerbitan Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2026.

"Skema ini sejauh pemahaman kami hanya berlaku untuk segmen e-hailing roda dua (GoRide) dan tidak mencakup e-hailing roda empat maupun layanan pengiriman seperti GoFood," tulis analis UOB Kay Hian.

Meski demikian, analis tidak menutup kemungkinan aturan tersebut dapat diperluas ke segmen lain di masa mendatang.

Jika pembatasan komisi hanya diterapkan pada layanan roda dua, dampaknya terhadap kinerja GoTo diperkirakan relatif terbatas.

UOB Kay Hian memperkirakan kontribusi pendapatan dari layanan roda dua hanya sekitar 7 persen dari total pendapatan perusahaan, dengan asumsi kontribusi layanan roda dua dan roda empat dalam bisnis mobilitas memiliki porsi yang sama.

Kemudian, untuk segmen mobilitas secara keseluruhan, yang mencakup layanan roda dua dan roda empat, menyumbang sekitar 14 persen terhadap pendapatan bersih GoTo pada kuartal I 2026.

Sementara itu, layanan berdasarkan permintaan atau on-demand service (ODS) menyumbang sekitar 62 persen pendapatan, dengan kontribusi terbesar berasal dari layanan pengiriman.

Apabila perubahan hanya berdampak pada e-hailing roda dua, tulis analis UOB, dampaknya seharusnya relatif ringan.

Sebaliknya, apabila aturan komisi 8 persen diperluas ke seluruh layanan mobilitas dan pengiriman makanan, dampaknya akan jauh lebih besar terhadap kinerja perusahaan.

Menurut UOB Kay Hian, GoTo masih memiliki sejumlah strategi untuk mengurangi tekanan terhadap profitabilitas.

Langkah tersebut antara lain mengurangi insentif di segmen layanan berdasarkan permintaan (ODS), meningkatkan skala bisnis fintech, menaikkan biaya layanan e-commerce, memperkuat strategi wilayah dengan fokus pada area berpermintaan tinggi, serta melakukan optimalisasi biaya dan pendapatan.

Dari sisi kinerja operasional, analis memperkirakan bisnis mobilitas menghadapi tekanan pada kuartal II-2026 akibat pelemahan ekonomi, harga minyak yang tinggi, serta pelemahan nilai tukar rupiah. Namun, bisnis fintech diperkirakan masih relatif bertahan.

"Risiko utama yang perlu diperhatikan adalah apabila perlambatan ekonomi semakin memburuk dan akhirnya memengaruhi bisnis fintech. Karena itu, menjaga kualitas aset menjadi penting," tulis analis.

Meski demikian, kemampuan GoTo dalam mengelola risiko berbasis data dinilai dapat membantu perusahaan menghadapi tantangan tersebut.

Tekanan terhadap saham GOTO sendiri masih berlanjut setelah perusahaan mencatatkan laba bersih kuartalan pertama kalinya pada kuartal I-2026.

Kabar tersebut langsung tertutup oleh kekhawatiran pasar terkait arahan pembatasan komisi maksimal 8 persen.

Saham GOTO kemudian terkoreksi hingga menyentuh batas bawah harga saham di Bursa Efek Indonesia sebesar Rp50 per saham dan bertahan di level tersebut dengan likuiditas yang sangat tipis.

Kondisi tersebut juga membuat MSCI menunda perubahan terhadap jumlah saham beredar, faktor free float, dan faktor pembatasan lainnya dalam peninjauan indeks Mei 2026.

Keputusan penghapusan dari indeks akan kembali dievaluasi dalam tinjauan indeks Agustus 2026 apabila saham GOTO tidak memenuhi persyaratan likuiditas.

Di sisi lain, pemegang saham GOTO pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) 18 Juni 2026 telah menyetujui program pembelian kembali saham (buyback) senilai Rp3,5 triliun untuk periode Juni 2026 hingga Juni 2027.

Program tersebut didukung posisi kas bersih perusahaan yang mencapai Rp21,8 triliun.

Namun, manajemen belum mulai menjalankan aksi buyback tersebut karena masih mempertimbangkan tekanan jual yang masih tinggi di pasar.

UOB Kay Hian memperkirakan aturan komisi 8 persen hanya menekan pendapatan bersih GoTo sekitar 3 persen pada 2026 dan 7 persen pada 2027 apabila hanya berlaku untuk layanan mobilitas roda dua.

Skenario tersebut dinilai masih dapat dikelola karena perusahaan memiliki berbagai strategi efisiensi.

Sebaliknya, jika aturan tersebut diperluas ke seluruh segmen, dampaknya diperkirakan jauh lebih besar, yakni dapat menekan pendapatan bersih sekitar 29 persen pada 2026 dan 36 persen pada 2027.

Dengan mempertimbangkan skenario saat ini, UOB Kay Hian mempertahankan rekomendasi beli (buy) untuk saham GOTO dengan target harga berbasis metode sum-of-the-parts (SOTP) sebesar Rp78 per unit.

UOB menekankan, kejelasan regulasi mengenai cakupan tarif komisi, peningkatan profitabilitas secara berkelanjutan, serta pelaksanaan program buyback secara bertahap menjadi katalis utama bagi saham GOTO ke depan. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE